18 Des 2018 21:35

T.B.C : Kami Masih Ingin Sampaikan Pesan

T.B.C : Kami Masih Ingin Sampaikan Pesan
T.B.C saat perform di sebuah pensi di Palembang

Kaganga.com, Palembang - Bicara Rock and Roll dari dataran Sumatera, tentu tidak pernah bisa menghindar dari nama T.B.C. Band Rock and Roll garage yang terbentuk pada tahun 2006 ini, masih tetap ada hingga saat ini.  Tai Babi Corporation (T.B.C) merupakan salah satu pioner rock n roll dari Kota Palembang. Band yang beranggotakan empat orang, Oko (Gitar), Rudy (Bass), Ayi (Vocal) dan Azhari (Drum) masih miliki keinginan yang kuat untuk bermusik.  Banyaknya band - band yang tumbuh di Palembang tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap bermusik. 

Menurut T.B.C musik adalah media untuk menyampaikan pesan. Hal itulah yang menjadi alasan untuk tetap berkarya.  "Musik itu media kami untuk menyampaikan pesan. Cita - cita kami bermusik sangat sederhana, hanya ingin menyampaikan pesan. Jika tidak ada pesan lagi, ya udah bubar," ucap Oko. 

Pesan yang dimaksud adalah fakta sosial yang dihadapi hari ini. Pesannya pun beragam, mulai dari isu politik, tentang hiruk pikuk kota, hingga Hak - hak perempuan.  Salah satu lagu mereka yang menceritakan kota Palembang, yaitu First Kilometer from Sudirman. Lagu yang menggambarkan macetnya Kota Palembang di KM1 Jl. Jendral Sudirman.  Lagu tersebut juga pernah dicover oleh band  Rock n roll asal Rusia, The Grace or Hell.  "Ya, lagu itu pernah dibawain sama mereka. Karena kami pernah ketemu di acara International Rock n Roll Nite di Semarang tahun 2011. Saat itu T.B.C dan mereka sama-sama jadi band pengisi acara itu," ujar Ayi. 

Oko juga menambahkan bahwa ada band asal Belgia, yaitu Assia yang ingin mengcover lagu "woman's Right" milik T.B.C. Lagu tersebut menceritakan hak - hak perempuan di mata manusia.  "Mereka itu band Belgia berdarah Medan. Karena orang tua dari dua personil mereka berasal dari Medan, jadi sesama orang Sumatera ya silahkan saja," ucap Oko. 

Menurut Wahyu, seorang musisi muda, penyuka musik hingar bingar sekaligus pentolan kolektif Guerrilla House ini mengatakan, T.B.C adalah band yang tidak perlu diragukan, perihal penggarapan album yang lamban menjadi minus di band tersebut.  "Itu band lama yang tidak perlu diragukan secara musikalitas, tapi band itu band pemalas karena sampai detik ini belum punya album," ucapnya. 

Wahyu juga mengatakan bahwa T.B.C band yang peka terhadap fakta sosial. Lagu - lagu mereka juga banyak kritik sosial. Individu yang terlibat di dalamnya orang - orang konyol dan lucu.  "Secara musik ok, mereka juga peka terhadap keadaan hari ini dan terpenting adalah mereka orang - orang konyol. Pelawak semua," ujarnya. 

Salah satu pentolan kolektif Hellsquad dan seorang musisi, Adji (Hellcopter, Nekolim, The Cewe Matre) mengatakan T.B.C band band yang berkualitas dan salah satu band Garage Rock and Roll paling bagus menurutnya.  Hal ini dilihat dari sound yang mereka suguhkan di atas panggung sangat baik dibanding band-band yang beraliran sama dengan mereka.  "T.B.C band garage paling keren. Band yang berkualitas, boleh dibilang ini band idola saya," ucapnya. 

Adji juga mengaku dirinya memiliki kedekatan secara emosional dengan para personel T.B.C. Adji mengatakan T.B.C itu kumpulan orang gila.  "Waaah.. kalau bahas perilaku individu di band itu, jelas mereka orang - orang gila. Mereka bisa fokus bermusik sambil bercanda di panggung. Apalagi Rudy yang selalu bertingkah konyol," ulasnya sambil tertawa. 

T.B.C beberapa tahun lalu sangat aktif dengan kegiatan - kegiatan anak muda yang dikoordinir secara mandiri. Artinya band ini juga lahir dari ranah Kolektif atau komunitas. 

Komentar lain pun tak henti-hentinya terhadap band satu ini. Seorang musisi yang cukup frontal, Budi (Nekolim, Samara, Tvsk, They) mengatakan T.B.C adalah band pemarah yang sangat fenomenal.  Budi menegaskan mereka bisa marah besar terhadap apa yang terjadi di kehidupan sosial. T.B.C sentimentil terhadap hal - hal yang tidak sesuai atau terjadi gesekan di kehidupan sosial.  "Mereka itu pemarah, mereka mengatakan dengan gamblang tentang lingkungan, kesetaraan gender, bahkan dunia kerja alias buruh mereka bahas. Mereka di atas panggung mulutnya benar - benar pedas seperti pemarah," ucapnya. 

Selain itu Budi juga menjelaskan kepribadian tiap - tiap individu di band tersebut.  " Mereka seperti alien yang hidup di Bumi, kadang mereka butuh penyesuaian terhadap lingkungan. Mereka juga terkadang bersikap aneh dan konyol di hadapan orang banyak," ulasnya sambil tertawa terbahak - bahak. 

Disinggung masalah album, T.B.C menjawabnya dengan rasa malu. Karena band satu ini masih dalam proses rekaman untuk album perdananya.  Mengingat usia band yang sudah cukup berumur, T.B.C pun mengakui bahwa rasa malas pernah merundung di keempat personilnya.  "Kami memang pemalas kemarin, karena keenakan manggung dan jalan - jalan. Tapi kita sudah kembali recording untuk melanjutkan album itu," ucap Oko.

Proses pengerjaan album perdana T.B.C ini dilakukan secara mandiri. Artinya T.B.C tidak melakukan kerjasama dengan pihak label manapun untuk penggarapan album mereka.  "Kami sudah cukup dibantu teman-teman di sini. Mulai dari studio rekaman sampai cover album kami dibantu teman-teman dan tentunya gratis," tandas mereka sambil tertawa.

Penulis : Nandoenk
Editor : Achmad Fadhil

Tag : TBC

Komentar