9 Nov 2019 16:30

Ada Banyak Jenis Songket yang di Simpan di Musium Balaputra Dewa

Ada Banyak Jenis Songket yang di Simpan di Musium Balaputra Dewa

Kaganga.com,Palembang - Songket merupakan salah satu warisan budaya khas Sumatera Selatan (Sumsel) termasuk Kota Palembang. Tetapi tak banyak yang tahu, apabila songket memiliki ragam jenisnya dan memiliki arti khusus dalam setiap motif.

Di Museum Balaputra Dewa Palembang ada beberapa kain songket yang sengaja disimpan dan diabadikan sebagai bukti tak benda dan simbolis sejarah nenek moyang. Tour Guide Museum Balaputra Dewa, Triseda menjelaskan, bahwa ada lebih dari 70 kain tradisional songket yang diakui oleh unesco.

"Sekitar 73 kain Sumsel diakui, dan diantaranya ada di sini (Museum Balaputra Dewa), walaupun songket terkenal mendunia. Sebenarnya kalau untuk kain tradisional bukan hanya songket, ada juga batik kemudian, kain gebeng dan jumputan," katanya saat di jumpai di Musium Balaputra Dewa, Sabtu (09/11/2019)

Beberapa kain songket yang merupakan kain tradisional khas Sumsel. Namun perlu diingat bahwa songket dulunya merupakan kain yang hanya dipakai oleh kaum bangsawan. Bergulirnya waktu, kain songket sekarang sudah banyak yang dimodifikasi.

Triseda menjelaskan, Museum yang dikelola oleh Chandra Amprayadi sebagai Kepala Museum Balaputra Dewa ini memiliki kain songket spesial yakni kain songket Nampan Perak yang sering dipakai oleh keluarga pangeran dan priyai saat masa kesultanan darussalam.

"Di jaman kesultanan, Songket Nampan Perak Dipakai okeh keluarga bangsawan. Bermotif emas yang hampir memenuhi seluruh kain dasar, songket Nampan Perak menggambarkan kejayaan dan sikap patuh para pangeran dan priyai kepada pemimpin (sultan)," jelasnya.

Kain songket Nampan Perak merupakan songket lepus dengan dasar kain berwarna merah. Kain songket Nampan Perak juge bermotif isian selang seling antara bunga, bintang dan bunga kapal sanggat. Apabila diperhatikan detail, pada bagian tumpal didominasi oleh motif geometris dan pucak rebung.

Kalau kain songket Nampan Perak berarti kejayaan, berbeda dengan kain Songket Nago Besaung. Jenis ini, di masa Kesultanan Palembang Darusalam, sering dipakai oleh Sultan sebagai tanjak (ikat kepala)..

Menurut sejarah, Triseda menjelaskan bahwa kain songket Nago besaung ini memiliki arti naga bertarung yang merupakan simbol kekuasaan, kejayaan dan kemakmuran.

"Saat ini, nago besaung diartikan sebagai naga yang dikurung dipakai oleh pengantin dan orang yang sudah berumah tangga atau simbolis terkait tali perkawinan," jelasnya.

Terbuat dari benang sutera dan benang emas (sartibi), songket Pinggir Pangkeng memiliki motif bubur talam atau belah ketupat di bagian tengah yang terdapat motif kapal sanggat. Sementara untuk bagian pinggir memiliki motif geometris.

"Warna dasarnya merah hati, rata-rata berukuran panjang 670 cm dan lebar 35 cm. Pada tahun 1982 bukti songket ini ditemukan di Pengadonan, Ogan Komering Ulu, Sumsel. Kalau songket ini biasanya sebagai hiasan untuk ranjang sultan palembang," jelasnya

Tidak saja kaum bangsawan kain songket Bungo Cino adalah contoh kain tradisional Sumsel yang dipakai oleh wanita keturunan China pada saat acara resmi Kesultanan Darussalam. Berwarna dasar ungu dan kuning keemasan. Kain ini didominasi motif geometris dan pucuk rebung yang tampak pada warna kuning keemasan.

"Motif songket Bungo Cino diselingi motif bubur talam tampak pada warna ungu, dan bagian tumpalnya lebar," ujar dia.


Selain wanita China, ada kain songket yang dipakai oleh wanita keturunan Arab. Yakni kain Songket Bungo Pacik. Kain ini juga diaplikasikan saat ada acara kesultanan, sambung Triseda, songket Bungo Pacik mrmiliki warna dasar ungu.

"Motif utamanya bunga bintang berwarna putih. Kain ini benangnya di dominasi oleh benang putih biasa dan benang emasnya relatif sedikit, motif kain ini lebih diartikan dengan ajaran islam yang tidak mengijinkan sikap riya, makanya tidak terlau menterang warnanya," sambungnya

Ada lagi jenis songket yang terbuat dari bahan sutera yang merupakan jenis kain tenun songket tawur. Songket Cantik Manis ini dibuat dengan tenunan teknik cukit dan sering dipakai oleh wanita dewasa saat menghadiri acara.

"Di hiasannya, songket ini menggunakan benang tambahan yang terbuat dari emas sartibi. Motif kain ini berwana kuning emas serta ditambahkan dengan warna hijau, pink, dan merah," ujar Triseda.

Sebenarnya selain jenis songket yang disebutkan di atas, masih ada beberapa jenis lainnya. Bahkan kain tradisional dari Sumsel ini juga memiliki batik Palembanh, Kain Pelangi serta beragam kain yang dimodifikasi untuk pakaian pengantin tradisional.

"Kita juga menyimpan pakaian di jaman prasejarah dan simbolis peninggalam revolusi dalam proses kehidupan dari masa klasik Hindu-Budha, kerajaan Islam, kolonialisme, kemerdekaan sampai kain-kain yang dipakai untuk proses upacara kelahiran, khitanan, perkawinan sampai akhir hayat kematian," pungkasnya.

Penulis : Ines Alkourni
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Songket

Komentar