5 Ags 2019 11:15

Aspek Makna Bunker Jepang di Lebong Gajah

Aspek Makna Bunker Jepang di Lebong Gajah

Kaganga.com, Palembang - Para pecinta dan pemerhati sejarah Palembang, bahkan seluruh warga kota ini mesti berbahagia atas penemuan baru peninggalan sejarah. Berita bertajuk ‘Tim Kelurahan Lebung Gajah dan Komunitas Pese UIN RF Teliti 8 Titik Landasan Meriam dan 1 Bunker Jepang’ dalam harian Beritapagi.co.id (30/7), menginformasikan bahwa penelitian awal itu dilakukan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat tentang adanya peninggalan masa pendudukan Jepang di Kelurahan Lebong Gajah, kota Palembang, yang selama ini tidak pernah terangkat ke permukaan. Meski masih berupa peninjauan, tim tersebut mendapati empat titik Landasan Meriam Jepang (LMJ) yang terdapat dalam areal kompleks Sekolah Xaverius Lebong Gajah, sebagian masih utuh dan sisanya telah disemen. Lalu empat titik lagi di Jl. Karya Jaya III, RT 23,  serta 1 Bunker di Jl. Betawi Raya RT. 49 / RW. 12 No. 1369 Kelurahan Lebong Gajah. Chodijah Anggeraini, SE, Lurah Lebong Gajah, termotivasi untuk melakukan penelitian dengan melibatkan Komunitas Pecinta Sejarah (Pese) UIN Raden Fatah Palembang yang dipimpin Kemas A. R. Panji, S.Pd., M.Si (Sejarawan Palembang-Pen).[1]

            Kehadiran balatentara Jepang memang telah menjadi bagian penting sejarah Palembang. Eksistensi Jepang di masa silam juga terbukti dengan keberadaan peninggalan lainnya yang lebih terkenal sebelumnya. Liputan Tribunnews.com dua tahun lalu (2017) menyebut bahwa setidaknya ada enam bukti peninggalan sejarah Jepang di Palembang yakni “Rumah Pertahanan Jepang” di Jl. Joko (Kelurahan Bukit Kecil), Gua Jepang KM5, Bunker di Talang Betutu, Bunker di Jakabaring, dan Rumah Pertahanan di Talang Semut : kondisi bangunan-bangunan itu umumnya tidak terawat dan nyaris hilang.[2] Tentu penemuan baru di Lebong Gajah kian menambah jumlah peninggalan masa pendudukan militer Jepang sekaligus memperkaya khazanah kesejarahan dari “Kota Pempek”. Meskipun kekhawatiran tentu belum sepenuhnya hilang dari benak kita sekalian : akankah bunker dan Lintasan Meriam di Lebong Gajah bernasib sama dengan peninggalan Jepang lainnya (menjadi tidak terawat) ?

Penelantaran warisan sejarah lebih disebabkan oleh cara berpikir terkotak yang tidak melihat manfaat (yang sejati) dari makna masa silam, maupun demi kemajuan di masa mendatang. Bunker ataupun gua Jepang di Palembang memang merupakan “benda mati”; tidak ada lagi serdadu Dai Nippon yang akan menembak atau meluncurkan mortir, maupun menghunus Katana (orang Indonesia sering menyebutnya sebagai “Pedang Samurai”) mereka, jika saja bangunan-bangunan sejarah itu ingin dimusnahkan. Tetapi yakinlah, bahkan jika peninggalan-peninggalan itu rusak dan hilang dengan sendirinya karena pengabaian kita, banyak sekali hal-hal berharga yang tak akan sempat kita gali dari dalamnya.

            Bunker Jepang, seperti telah dijelaskan di atas, merupakan penanda  akan eksistensi bangsa “Matahari Terbit” di bumi Sriwijaya. Sebelum berbicara mengenai kebiadaban mereka semasa pendudukan di Indonesia, Jepang adalah salah satu contoh masyarakat-negara yang begitu erat memegang warisan sejarah tak benda. Pada periode 1477-1568 Jepang mngalami masa Peperangan Antar Provinsi, kemudian mereka menutup diri dengan kebijakan isolasi (Sakoku Seikatsu) selama sekitar dua abad (1616-1852), kala itu kaum elit militer yang disebut Samurai menguasai negara, tersusunlah sebuah kode etik yang disebut sebagai Bushido atau “Jalan Hidup Bushi (sebutan lain Samurai)”. Bushido adalah keyakinan bahwa Samurai harus mempunyai kesetiaan mutlak kepada tuan besar mereka. Sifat kode etik ini sangat kontras dengan kesetiaan oportunistik yang banyak terjadi pada zaman Peperangan Antar Provinsi dan dapat dengan cepat berubah menjadi pengkhianatan.[3]

            Abdul Razaq Ahmad, pensyarah / pengajar di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Bangi (Selangor, Malaysia), menyebut bahwa Bushido menjadi salah satu unsur yang membentuk orang Jepang menjadi tegas dan amanah dalam menjalankan suatu tugas tanpa perlu diawasi demi kejayaan negara.[4] Nilai itu masih dipegang teguh bahkan setelah kelas sosial Samurai dihapuskan sekitar tahun 1870-an. Masa yang disebut sebagai Restorasi Meiji (Meiji Ishin) ikut mendorong Jepang untuk menugaskan warganya ke Eropa guna mempelajari ilmu kedokteran baru dan ilmu-ilmu lain (termasuk kemiliteran) yang telah membawa kemajuan besar di Eropa selama beberapa tahun sebelumnya. Ernst H. Gombrich memuji orang Jepang yang telah mampu menguasai ilmu-ilmu Eropa hanya dalam jangka waktu beberapa dasawarsa saja. Bagi Gombrich, orang Eropa sampai terkesiap hingga sekarang dan mengakui bahwa Jepang telah menjadi “murid” paling baik sepanjang sejarah dunia.[5]

            Tapi dengan mengingat keunggulan Jepang itu kita tak boleh hanya berhenti di sana. Kekaisaran tersebut kemudian memasuki zaman industrialisasi yang pesat, namun dalam keadaan miskin sumber daya alam. Masalah-masalah lain seperti terhentinya permintaan produk persenjataan Jepang seusai Perang Dunia I, pembengkakan populasi, hingga gempa bumi hebat tahun 1923 menyebabkan penguatan paham militerisme Jepang yang menggiring mereka pada persaingan melawan “Mantan Guru” mereka yakni bangsa-bangsa Eropa sendiri. Persaingan hegemoni tersebut kemudian memuncak pada pecahnya Perang Pasifik atau menurut istilah Jepang sendiri adalah “Perang Asia Timur Raya.” Pertempuran ini kemudian ikut menyeret Belanda, penguasa kepualuan luas yang mereka sebut ‘Hindia Timur’. Di Hindia Timur itu terhampar sebuah wilayah yang amat strategis serta kandungan kekayaan buminya sangat dibutuhkan oleh Jepang.

            Palembang adalah minyak, batubara, dan hasil bumi yang melimpah untuk kebutuhan perang Jepang. Invasi militer pertama oleh Kekaisaran Jepang ke Palembang dimulai pada tanggal 23 Januari 1942, penyerangan tersebut berupa pengeboman udara terhadap Bandara Militer Pangkalan Benteng Palembang. Ini merupakan salah satu usaha Jepang untuk mengurung Pulau Jawa dari arah barat. Pada tanggal 12 Februari 1942, pesawat Sekutu melaporkan tentang adanya armada Jepang di sebelah selatan Kepulauan Anambas. Kapal-kapal itu berlayar menuju Sumatera Selatan dan mendaratkan pasukan di Pulau Bangka pada malam hari tanggal 13 menjelang 14 Februari 1942.[6]

Mereka memilih Pulau Bangka sebagai pangkalan untuk menuju sasaran utama : Palembang. Jepang melanjutkan serangan dengan dukungan 115 pesawat yang diterbangkan dari Muntok beserta penerjunan pasukan parasut ke Bandara Pangkalan Benteng, kilang minyak Plaju serta kilang N.K.P.M. (Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) di Soengaigerong. Pada tanggal 14 Februari 1942 Jepang memasuki Kota Palembang melalui pendaratan di Sungai Musi disertai penerjunan Pasukan Payung pimpinan Kolonel Kume Seichi dari pesawat Kawasaki Ki-56, beserta penyerangan oleh 18 pesawat bomber Ki-21.[7] Peristiwa ini dikenang sebagai Battle of Palembang, yang kemudian ditutup dengan jatuhnya kota ini ke tangan Jepang pada 15 Februari 1942.

Dai Nippon lalu merengkuh “estafet” penjajahan dari tangan Belanda yang telah menyerah pada bulan Maret tahun itu di Kalijati, Jawa Barat. Kekejaman demi kekejaman telah tercatat selama pendudukan Jepang, kita dengan mudah dapat menemukannya dalam sumber bacaan sejarah. contoh kekejaman mereka ialah penangkapan para pemimpin rakyat Palembang seperti dr. A.K. Gani, A.S. Mattjik, dr. Supaat, Abdul Rozak, M. Basri, serta puluhan lainnya termasuk Yap Thiam Hoo (tokoh Tionghoa) dan Bung Titaley (tokoh Maluku). Penyiksaan terjadi amat hebat pada mereka hingga contohnya Bung Titaley sampai gugur menemui ajalnya. Kemenangan Jepang pada Belanda hanya kejayaan sesaat. Sebagai negara fasis, Jepang dikeroyok sekutu / negara-negara bernasib seperti Belanda yang kehilangan tanah jajahan akibat agresi militer Jepang. Sampai kemudian dalam pertemuan tanggal 22 Agustus 1945 antara Syu Tyokan Miyako Tosio (pemimpin tertinggi bala tentara Jepang di Palembang) dengan tokoh-tokoh lokal di kawasan elit Talang Semut, para pemimpin tentara Jepang mengumumkan secara resmi bahwa kekaisaran mereka telah menyerah pada pihak sekutu delapan hari sebelumnya.[8]

            Jepang memang mengagumkan dari sisi semangat mengejar ketertinggalan mereka di hadapan bangsa Barat. Sayangnya mereka sempat menjadi bangsa yang tak kalah ekspansionis, sehingga dengan alasan itu pula keberadaan mereka secara militer dan politik turut hadir ke Palembang. Bunker di Lebong Gajah, meski bukan yang pertama, penemuan ini mau tidak mau telah menegaskan bahwasaannya peninggalan Jepang yang cukup banyak sangat berpotensi untuk diangkat sebagai bagian dari wisata sejarah Palembang, serta yang tidak kalah penting ialah dapat menjadi objek penelitian kesejarahan untuk memajukan bidang keilmiahan. Kedua potensi tersebut memerlukan kerjasama dan perhatian dari berbagai pihak agar dapat dikembangkan secara optimal.

            Agar potensialisasi peninggalan-peninggalan di atas dapat berjalan secara optimal, ada beberapa informasi dasar yang harus segera ditelusuri serta diungkapkan kepada publik.  Sebagaimana dalam pemberitaan Beritapagi.co.id (30/7), diyakini bahwa bunker dan landasan meriam Lebong Gajah tersebut dibangun pada tahun 1942, kemungkinan ini bisa saja benar, walaupun kita perlu mempertimbangkan background sejarah secara umum, yakni fakta bahwa Jepang baru memasuki fase defensif di awal tahun 1943. Situasi yang berubah itu menyebabkan Jepang kewalahan, maka pada 29 April 1943, bertepatan dengan hari ulang tahun kaisar Jepang, otoritas Jepang di Jakarta mengumumkan pembentukan sistem perlawanan semesta dari kota sampai pelosok desa terpencil.[9] Maka pertanyaannya, apakah bunker-bunker yang bersifat defensif ini dibangun setelah kebijakan atau sebelum kebijakan tersebut ?

            Di samping mengenai latar belakang, jangan pula kita abaikan soal proses pembuatannya. Kita telah banyak membaca mengenai tenaga kerja Romusha di era Jepang. Benarkah pembangunan instalasi militer ini dilakukan oleh kekuatan militer (tentara) Jepang, ataukah mereka memakai tenaga pribumi ? Jika rakyat Indonesia yang dikerahkan, akan menjadi suatu hal lain yang memicu banyak pertanyaan : dari mana para pekerja itu, apakah dari Jawa atau dari Sumatera ?; apakah mereka termasuk para Romusha, ataukah masyarakat biasa yang diminta untuk membantu pembangunannya ?; apakah selama proses pembangunan tersebut rakyat Indonesia diperlakukan keras ? Kalau ternyata dapat dibuktikan bahwa konstruksi tersebut melibatkan Romusha dan terjadi kekerasan terhadap rakyat, maka peninggalan Jepang ini tidak hanya bersifat militer, akan tetapi turut memiliki sisi kemanusiaan.

            Berikutnya adalah keterkaitan antara eksistensi bangunan-bangunan dalam sistem pertahanan militer dengan proses kejatuhan otoritas Jepang. Banyaknya peninggalan bangsa itu di Palembang, serta bukan tidak mungkin penemuan serupa juga akan bertambah, bisa menimbulkan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini tidak kita pikirkan. Pengumuman resmi penyerahan Jepang pada Sekutu yang dilangsungkan tanggal 22 Agustus 1945 di Palembang cukup terasa ganjil. Jepang yang membatasi rakyat memiliki radio tentu sudah mendengar lebih awal berita kekalahan itu sejak 14 Agustus 1945. Rentang waktu 8 hari tidak bisa disebut singkat. Sehingga pertanyaannya, apakah otoritas Jepang di Palembang memiliki maksud lain untuk mempertahankan kekuasaannya lebih lama lagi, dengan pertimbangan bahwa mereka memiliki sistem pertahanan yang masih cukup kuat ?

Terakhir, penulis berharap agar penemuan bunker Jepang menjadi tambahan materi pembelajaran sejarah yang membangun patriotisme-heroisme positif / tanpa bernuansa fanatisme ibarat angkatan udara Jepang yang sama sekali tidak merasa ketakutan jika harus melakukan Kamikaze (serangan bunuh diri dengan menabrakkan pesawatnya ke kapal-kapal induk Amerika Serikat).[10] Meskipun berbentuk peninggalan militer, para akademisi maupun pecinta sejarah tak boleh nihil dalam menyampaikan kepada masyarakat bahwa kekerasan ataupun perang bukanlah sebuah kebanggaan dan selalu membawa kerugian, seperti Jepang yang menjadi negara paling menderita kerusakan terparah selama Perang Dunia II, dengan total korban mencapai 668.000 orang, termasuk akibat bom atom Hiroshima-Nagasaki.[11]

 

Sumber :

1. “Tim Kelurahan Lebung Gajah dan Komunitas Pese UIN RF Teliti 8 Titik Landasan Meriam dan 1 Bunker Jepang”, dalam Beritapagi.co.id 30 Juli 2019.

2.”Misteri Goa Jepang di Palembang, dari Pria Salat di Terowongan hingga Kisah Kelam Pemerkosaan”, dalam Tribunnews.com 27 Juli 2017.

3.Varley, H. Paul, dkk., Samurai : Sejarah dan Perkembangan, Jakarta : Komunitas Bambu, 2008. Hlm. 163.

4. Ahmad, Abdul Razaq, Andi Suwirta, Sejarah dan Pendidikan Sejarah : Perspektif Malaysia dan Indonesia, Bandung : Historia Utama Press, 2007. Hlm. 81.

5.Gombrich, Ernest H., Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda, Tangerang : Marjin Kiri, 2016. Hlm. 330.

6. Suyono, Capt. R.P., Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial , Jakarta : Grasindo, 2005. Hlm. 207-208.

7. Pramasto, Arafah, dkk., Makna Sejarah Bumi Emas : Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 89.

8.Ibid. Hlm. 92.

9. Usman MHD, Syafaruddin, Isnawita Din, Peristiwa Mandor Berdarah , Yogyakarta : Media Pressindo, 2009. Hlm. 28.

10. Baskara, Nando, Kamikaze : Aksi Bunuh diri “Terhormat” Para Pilot Jepang , Yogyakarta : Narasi, 2008. Hlm. 177.

11.Darmawan, Muhammad Daud, Kumis Sang Fuhrer : 100 Lebih Fakta Lain tentang Adolf Hitler, Jerman, dan Perang Dunia II, Yogyakarta : Narasi, 2011. Hlm. 57.

Oleh :

Arafah Pramasto, S.Pd.

(Anggota Studie Club ‘Gerak Gerik Sejarah’)

Penulis : citizen journalis
Editor : Riki Okta Putra

Tag : bunker jepang

Komentar