17 Sep 2018 22:00

Baba Boentjit Wisata Digital di Era Milineal

Baba Boentjit Wisata Digital di Era Milineal

Kaganga.com,Palembang - Saat ini kota Pempek telah di fokuskan untuk menjadi kota wisata. Sungai Musi pun bermanfaat sebagai jalur transportasi. Dengan lintasan utama yang kerap dilalui oleh kapal-kapal dagang yang besar, maupun perahu atau sampan yang berukuran lebih kecil.

Perkembangan jaman, Kota yang terkenal dengan Jembatan Ampera, kini menjadi dambaan wisata digital di era milineal. Apalagi sejak November 2017, Palembang memiliki destinasi terbaru yakni "Pasar Baba Boentjit". 

Menteri Pariwasata, Arief Yahya sendiri pernah menyatakan jika Ia menyukai wisata digital dan sangat dibutuhkan pada jaman milineal. Ia menyebutnya 2C yaitu Creative Value dan Commercial Value.

"maksudnya, creatif dalam mengangkat tema-tema pariwisata di media sosial, dari soal desain, angel, pemilihan kata, interaktif di medsos, sampai mengemas event. Kuncinya, harus selalu fresh dan kekinian," kata Arief

Berlokasi di lorong Saudagar Yucing No. 55 Rt. 050 Rw. 022 Kelurahan 3-4 ulu Kecamatan Sebrang Ulu I Palembang, waktu tempuh dari Dermaga BKB (Benteng Kuto Besak), menuju Baba Boentjit hanya 10-15 menit. 

Menelusuri perjalanan menggunakan transportasi air "ketek" atau perahu kecil. Kota yang terkenal dengan pempek khas kulinernya, memang memiliki potensi sungai cukup menggiurkan sebagai pendapatan daerah. Tak heran, jika wisata lokal ini terus dipoles sehingga terlihat kian seksi dipandang.

Baba Boentjit sebenarnya kawasan rumah tinggal saudagar keturunan Tionghoa yang sangat kaya di masanya. Dari awal terbangun, rumah tersebut belum sama sekali tersentuh renovasi. Sudah sekitar 300 tahunan berdiri, rumah yang memiliki luas 3000 m persegi ini masih amat sangat kokoh tegak didaratan ulu Sungai Musi. Terkenal dengan nama "Pasar Baba Boentjit" tempat wisata tersebut memiliki arti, pasar untuk keramaian, baba untuk sebutan keturunan orang chinesse yang masuk islam atau mualaf, dan boentjit adalah nama keluarga dari Ong Boentjit.

Sekarang Pasar Baba Boentjit disulap menjadi festival kuliner, bahkan festival digital yang cocok dijaman instragamable seperti saat ini. Selain di Palembang, wisata sama pun terletak di kota-kota lain seperti, Pasar Tahura, Lampung. Pasar Kakilangit di Yogyakarta, Pasar Siti Nurbaya Kota Padang dan beberapa lokasi lagi di Indonesia.

 

Sementara, setelah sampai di Pasar Baba Boentjit. Hal paling menarik adalah ketika memasuki ruang tamu, arsitek chinessenya masih begitu kental.

Dipenuhi dengan hiasan-hiasan dinding tulisan mandarin. Pernak-pernik ala Tiongkok dan tempat peribadatan yang dianggap suci. Sisi dinding dihiasi dengan pigura foto keluarga Baba Ong Boentjit. 

Terus masuk kedalam, seakan menyiratkan betapa luas rumah ini. Ada dua meja untuk tempat santai dan meja makan yang dibuat melingkar. Suasananya begitu khas Tionghoa. Terdapat lampion-lampion dan kaca-kaca yang menghiasi langit-langit. Sehingga membawa wistawan untuk terus melaju mengenal rumah tersebut semakin dalam.

Hingga saat ini, keturunan asli Ong Boentjit sudah terlahir disilsilah ke-6. Dan, Bapak Budiman sebagai seorang pengurusnya. Mengitari lingkungan Pasar Baba Boentjit, wisatawan juga akan bertemu dengan masyarakat sekitar. Selain ramah, masyarakat daerah ini ternyata hampir seluruhnya berprofesi sebagai pembuat "Nipah".

"Nipah adalah kerajinan tangan yang terbuat dari pelepah daun pohon nipah. Atau sejenis palem yang tumbuh di lingkungan hutan bakau. Dari tanaman ini, para pengrajin memanfaatkan lidi nipah yang dikeringkan untuk dijadikan keranjang anyaman seperti alas piring di rumah makan. Biasanya kegiatan mengayam nipah ini dilakukan oleh para ibu-ibu rumah tangga yang melakukannya di depan teras rumah mereka sambil mengurus anak."kata Budiman saat bertemu di Pasar Baba Boentjit.

Tidak saja Budiman, Generasi Pesona Indonesia (GenPI) juga turut mengurus dan memgembangkan destinasi wisata digital ini. Diketuai Achmad Nanda, GenPI cocok dengan generasi milenial yang menjadikan wisata sebagai bagian dari gaya hidup. GenPI juga sesuai bagi anak muda yang suka piknik, suka foto dan jalan-jalan ke destinasi wisata Indonesia. 

Penulis : Ines Alkourni
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Baba boentjit

Komentar