9 Nov 2017 20:05 | 29

Huruf Arab-Melayu Di Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam

Huruf Arab-Melayu Di Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam

Kaganga.com, Palembang - Dulu sebelum masyarakat kita mengenal huruf latin, seluruh aktivitas kegiatan kesehariannya dicatat dan ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu/Jawi dalam berbagai aspek. Baik itu berupa inskripsi (seperti tulisan pada: koin, cap, meriam, nisan, dll) maupun manuskrip atau naskah (seperti: surat, kitab, catatan, piagam, undangan, dan lain-lain). Mereka dikenal sangat agamis, inkulturasi yang telah menjadi identitas diri serta refleksi kecintaan terhadap bahasa Melayu/Jawi itu sendiri.

Menurut pengamat sejarah kota Palembang, Kms.H.Andi Syarifuddin , Salah satu aspek terpenting dalam penggunaan huruf Arab-Melayu adalah dalam bidang ekonomi atau keuangan.

“Seluruh daerah di tanah air, dahulu memproduksi mata uang masing-masing sebagai alat pembayaran yang sah. Di zaman Kerajaan Islam Palembang, kesultanan telah memproduksi dan mengedarkan sendiri mata uang lokal dalam bentuk koin/uang logam yang dikenal dengan sebutan redano “pitis”,” katanya, Kamis (9/11).

Uniknya menurut Andi, koin ini beraksara Arab-Melayu dalam berbagai bentuk dan ukuran. Mata uang Kesultanan Palembang terakhir di produksi sekitar tahun 1253H atau 1837.

“Pada masa kolonial Belanda, mereka menerbitkan koin mata uang Rupiah Nederlandsch Indie dengan berbagai ukuran dan nilai nominal yang berbeda-beda,” katanya.

Istimewanya, koin ini pun masih menggunakan huruf Arab-Melayu. “Sebagai contoh lihat koleksi saya yang bertarikh 1850an hingga tahun 1945,” katanya.

Sedangkan di zaman kemerdekaan, yang lebih membanggakan uang logam Negara RI pada waktu itu juga bertuliskan aksara Arab-Melayu hingga akhir era 1950an.

“Ironisnya, sekarang pemakaian huruf Arab-Melayu tersebut tidak terlihat lagi,” ujarnya. 

Penulis : Achmad Fadhil
Editor : Riki Okta Putra

Tag : kesultanan palembang

Komentar