25 Jul 2019 20:00

Kenali Sejarah Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I

Kenali Sejarah Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I

Kaganga.com,Palembang - Mendengar kata kota Palembang pasti tidak lepas dari berbagam budaya ,makanan dan wisatanya , satu lagi hal yang paling menonjol di kota Palembang adalah Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) I Jayo Wikramo. Berada di pusat kota Wong Kito Galo ini, Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua yang didirikan sejak tahun 1738.

Sebelum berubah nama menjadi Masjid SMB I Jayo Wikramo. Masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Agung SMB. "Penamaan masjid semula Masjid SMB, menjadi Masjid Agung SMB I Jayo Wikramo, karena untuk meluruskan nilai-nilai sejarah. Untuk menunjukkan identitas masjid Agung," kata Pengelola Masjid Agung SMB I Jayo Wikramo, Syukri Mascik Azhari.

Menurut sejarah, sambung Syukri, nama SMB pada masjid, karena Sultan Mahmud Badaruddin adalah seorang yang meletakkan batu pertaman di bangunan masjid. "Semua keturuna SMB mengurus dan mengelola (Masjid Agung), masjid banyak yang mengurus bahkan ada lebih dari satu sultan, sampai 10 sultan membangun masjid. Yang pertama meletakkan ialah SMB I Jayo Wikramo,"jelasnya.

Meski diketahui Masjid Agung SMB I Jayo Wikramo sudah berusia ratusan tahun. Bangunannya masih tetap berdiri kokoh. Ikon kebanggaan Kota Palembang ini tidak pernah sepi dari jemaah yang datang silih berganti untuk salat dan singgah. Bahkan beberapa pengungjung pun terlihat terkesima dengan keunikan bangunan disetiap sisi dari masjid tersebut.

Bangunan asli Masjid Agung SMB I Jayo Wikramo ini berbentuk bujuk sangkar dengan atap limas bersusun ditambah ornamen berundak berwarna emas yang disebut dengan mustaka. Atap masjid ini berdiri dua tingkat seperti kepala dan tubuh yang terpisah oleh leher.

"Tiap berundak punya jurai (atap) kelompok simbar atau tandung kambing. yang dipasang sebanyak 13 buah disetiap sisi. Kalau pertama masuk dari sisi timur selatan maupun utara, pengunjung bisa melihat gerbang serambi masuk. Peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam dan keturunannya. Dulunya (Masjid Agung) berada di sisi Utara Istana Kesultanan Palembang atau di belakang Benteng Kuto Besak (BKB) dan berdekatan dengan aliran Sungai Musi," tutur Syukri.

Lebih lanjut, setelah dibangun Masjid utama, pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamuddin kembali dibangun menara masjid yang berada dilokasi terpisah dari bangunan utama. Menara masjid ini berbentuk segi enam dengan tinggi mencapai 20 meter.

Menara ini menyerupai kelenteng dengan bentuk atap menara melengkung pada bagian ujung. Kemudian, memiliki teras berpaga yang mengelilingi bangunan menara. Perbaikan dan pemugaran pun kembali dilakukan akibat dampak dari peperangan besar yang terjadi di Kota Palembang pada tahun 1821.

"Masjid agung ini mendapatkan tanah wakaf dan dilakukan perluasan jadi 5 hektar dengan daya tampung mencapai 7.750 jemaah," tuturnya.

Tak hanya dilakukan perluasan. Menara baru masjid kembali dibangun dengan ketinggian mencapai 45 meter mendampingi menara asli yang bergaya Cina.

Seiring dengan waktu, Masjid Agung SMB I Jayo Wikramo terus mengelami renovasi agar lebih banyak menampung jemaah. Bangunan asli Masjid Agung ini berada dipusat kota atau tepatnya di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I Palembang.

"Bangunan masjid asli atau utama Masjid Agung terletak di tengah bangunan, yang disangah tiang kayu. Berbentuk seperti bangunan Kelenteng dan hanya berukuran 1.080 m persegi, cukup menampung jemaah 1200 orang. Arsitek bangunan kolaborasi Masjid Agung berasal dari Cina Eropa dan Indonesia," ungkap Syukri.

"Dari awal berdiri, mulai banyak penambahan ornamen mulai dari atap penambahan tinggi menara dan perluasan bangunan. Renovasi pertama pada tahun 1758 dan beberapa tahun rutin terus dibangun sampai pasa akhirnya renovaso terakhir yakni di 2003. Dengan luas keselurhan areal masjid kurang lebih 15.400 meter persegi," tambahnya. 

Pada tahun 2003, masjid ini ditetapkan sebagai Masjid Agung Palembang yang merupakan masjid nasional dan warisan budaya masa lalu. Masjid ini pun dilindungi oleh Undang-Undang karena termasuk sebagai Cagar Budaya. Dan kini, Masjid Agung Palembang pun ditetapkan sebagai objek vital nasional bidang kebudayaan dan pariwisata.

Penulis : Ines Alkourni
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Mesjid agung

Komentar