28 Mar 2020 21:00

Kristen Nestorian dari Timur Tengah Hingga Palembang

Kristen Nestorian dari Timur Tengah Hingga Palembang

Kaganga.com - Sebuah tajuk Tabloid Reformata tahun 2006 berjudul Peta Kekristenan di Timur Tengah yang ditulis oleh dosen Teologi Agama-agama STT Jakarta, Pdt. Stanley R. Rambitan,Ph.D, menjelaskan bahwa Kristen Nestorian ialah yang dikenal dan diketahui oleh Nabi Muhammad. Secara historis, Rasulullah SAW menerima Kerajaan Najran masuk dalam kekuasaan Islam di mana beliau sendiri menjamin keselamatan seluruh rakyat Najran, serta keselamatan dan kemerdekaan para pendeta yang mengajarkan agama Kristen Nestorian mereka. Peristiwa itu disebut sebagai “Amandemen I Piagam Madinah” karena sebelumnya piagam tersebut hanya mengikat perjanjian dengan kaum Yahudi Madinah. Selain sarat akan nilai keteladanan, sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah itu turut berperan bagi keberlangsungan eksistensi umat Kristen Nestorian, mengingat Islam secara luas dianut oleh kebanyakan masyarakat timur tengah pada abad-abad selanjutnya.


Salah satu contoh perkembangan positif bagi komunitas Kristen Nestorian pada masa berikutnya ialah di bawah kekuasaan Khilafah Abbasiyah yang berdiri sekira tahun 750 M, para Khalifah yang memimpin turut memberi ruang bagi penganut agama tersebut untuk berperan dalam kehidupan bernegara. Banyak dokter penganut Nestorian yang menjadi dokter pribadi para Khalifah. Pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M) serta dua penggantinya (Al-Amin dan Al-Ma’mun), terhitung cukup besar pengaruh tokoh-tokoh Nestorian dari segi politik. Para Khalifah itu membiarkan orang Kristen mengemban tugas penting dan terhormat di istana, contohnya ialah sebagai juru bicara bagi sesama pemeluk Kristen. Pengaruh positif pemerintahan Islam berdampak lebih jauh bagi kaum Nestorian untuk meluaskan pengaruhnya ke luar Timur Tengah. Bahkan di Cina ditemukan sebuah monumen batu yang didirikan antara tahun 779-781 M pada saat kepemimpinan agamawan Nestorian bernama Hanan Shua. Bagaimana ajaran ini bisa sampai ke negeri Cina ? Hal itu disebabkan peran dari Bapa Gereja berkebangsaan Syria bernama Yeshuyab II (628-643 M), yang dalam bahasa Cina disebut A-lo Pen.


Penyebaran Nestorian ternyata tak berhenti hingga ke negeri tirai bambu di sisi timur belahan dunia. Sama halnya dengan gambaran interaksi simbiotik antara kedua agama (Islam & Kristen Nestorian) itu tergambar dalam catatan seorang ilmuwan Islam bernama Syaikh Abu Salih Al-Armini. Ia adalah seorang pakar sejarah termasyhur yang hidup sekitar 1150. Ia menerbitkan daftar 707 Gereja Kristen dan 181 Pertapaan di Mesir, Nubia, Abessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India, dan Indonesia. Abu Salih menguraikan kondisi di Sumatera Utara : “Di Fansur ada beberapa gereja, yang termasuk kelompok Kristen Nestorian. Dari situ (Fansur-Pen) dihasilkan ‘Kamfer Barus’, suatu zat yang menetes dari pohon-pohon. Di kota itu berdiri gereja, yang ditandai dengan nama Perawan Maria Tak Bernoda.” Tahun didirikannya gereja itu diperkirakan pada 645 M. Fansur yang dimaksud berada di dusun Pancur, dekat Baros di Tapanuli Tengah. Ia menyebut bahwa umat Kristiani pertama tersebut sebagai keturunan Gereja Nestorian atau Khaldea, yang ketika itu tersebar dari Syria sampai di kawasan Malabar di India Selatan. Catatan Abu Salih yang seorang Muslim ini cukup komprehensif (ilmiah) dalam ukuran zamannya.


Catatan mengenai keberadaan gereja Nestorian di Fansur yang berada di pulau Sumatera tentu akan mengingatkan kita pada kota Palembang. Pasalnya, ibukota provinsi Sumatera Selatan ini telah memiliki peradaban lama, bahkan sebelum kemunculan Sriwijaya. Sebuah arca Budha yang ditemukan di Bukit Siguntang Palembang berasal dari abad ke-6 Masehi, dengan kata lain, seabad sebelum pendirian kerajaan besar ini, secara epigrafi maupun historis tampaknya telah dipengaruhi agama Budha. Meski Sriwijaya identik dengan agama Budha, sejak abad ke-6 M agama Hindu sudah muncul dan berkembang di Kota Kapur (P. Bangka) yang kemudian menyebar ke Palembang dan berjaya di pedalaman. Percandian Bumiayu (Muara Enim) adalah buktinya. Selain di Bumiayu, agama Hindu juga menyebar ke Teluk Kijing (± abad ke-8) dan Musi Rawas (±9-10 M).


Tidak mengherankan dengan usia peradaban yang panjang itu, Palembang telah memiliki corak pluralitas yang sedemikian kental. Mengenai aspek demografi dari segi religi, kota ini tidak hanya mengenal agama bercorak India seperti Hindu dan Budha. Saat kerajaan Majapahit dipimpin oleh Rani (Raja Wanita) Tribhuwana Tunggadewi, Bapa Giovanni  d’Marignolli (Inggris : John de Marignolli) dalam perjalanan pulangnya dari Beijing tahun 1347 M menemukan pemeluk Kristiani lokal di Majapahit dan Palembang. Kemungkinan umat Kristiani yang ditemui oleh Marignolli ialah orang-orang Kristen Nestorian. Sekitar dua abad setelah catatan Marignolli itu berdasarkan kajian Lamin O. Sanneh dalam Discilples of All Nations : Pillars of World Christianity menyebut bahwa terjadi pentahbisan seorang patriark / bishop Nestorian di Palembang pada tahun 1502. Sesudah itu tidak lagi terdengar catatan – catatan lebih lanjut mengenai keberadaan pemeluk Nestorian di Nusantara, atau Sumatera dan terkhususnya Palembang. Apalagi gereja ini mengalami kemunduran pada tahun 1552 setelah pada setahun sebelumnya (1551) terjadi skisma (perpecahan) akibat penolakan masyarakat Nestorian atas pengangkatan Shim’un VIII Denka sebagai patriark (tertinggi) dengan oponennya ialah Rahib Yuhanna Sulaqa.

Oleh :

Arafah Pramasto,S.Pd.

(Pendamping PKH dan Anggota Studie Club ‘Gerak Gerik Sejarah’)

Penulis : citizen journalis
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Sejarah Sumsel Nestorian

Komentar