26 Jul 2019 19:55

Melayu : Hulu Sejarah Sriwijaya

Melayu : Hulu Sejarah Sriwijaya

Kaganga.com, Palembang - Siapakah Orang Melayu ? Pertanyaan ini memang sederhana, namun tidak menjanjikan sebuah jawaban tunggal. Masyarakat Sumatera Selatan tentu bagian dari Orang Melayu. Begitu pula dengan masyarakat Melayu di Riau, Deli, sampai Pontianak. Tidak hanya itu, identitas Melayu pun tak bisa diklaim sendiri oleh bangsa Indonesia. Rakyat Malaysia juga Orang Melayu; Kaum Muslim di Narathiwat dan Pattani Thailand juga Melayu, bahkan etnis Moro yang beragama Islam di selatan Filipina tergolong Melayu.

Dalam kajian modern oleh Afriva Khaidir,S.H.,M.Hum.,MAPA.,Ph.D. mengutip Hefner (2001), terminologi “Malayo-Indonesian” sesungguhnya memayungi (mencakup) identitas Melayu di rantau Asia Tenggara, dengan agama Islam sebagai medium perkembangan di abad ke-15 sampai 17 dan akhirnya membentuk ‘multiethnic macrocosmosm’ sampai ke bagian selatan Filipina seperti Moro, sebagian Mindanao dan Sulu. Kelompok etnik di “Alam Melayu” ini seperti Melayu, Jawa, Minangkabau, Bugis, Banjar, Bajau, Kadazan, Dusun, Murut, Iban, Bidayuh, Melanau, dan kelompok etnik tempatan lainnya; yang tidak memiliki batas etnik yang tertutup. Hal ini juga terjadi pada masyarakat Arab, China, Portugis, dan India yang behijrah ke sini.[1]

                Sebutan “Alam Melayu” bagi Lebensraum (Ruang Hidup) Orang Melayu yang begitu luas, sama dengan yang dikutip oleh Yunani Hasan, akademisi sejarah senior dari Universitas Sriwijaya, dari F. Saudagar (1992), menjadikan istilah Melayu didapati pada nama suku bangsa, bahasa, kebudayaan : suku Melayu, bahasa Melayu, kebudayaan Melayu dan dapat disaksikan wujudnya di kawasan Asia Tenggara. Namun istilah Melayu dihubungkan (pula) dengan sebuah kerajaan yang pernah berkembang pada abad ke-7 Masehi, maka (hal ini) menimbulkan banyak interpretasi.[2]

Sebelum melangkah untuk menilik tentang keberadaan “Kerajaan Melayu” itu, amat penting sekali menelusuri asal muasal dari eksistensi Orang Melayu yang sudah mapan di era modern ini. Pendapat yang umum di tengah akademisi kesejarahan menyebut bahwa dataran Yunan merupakan wilayah asal moyang orang-orang Melayu yang kemudian bergelombang masuk ke Indo-Cina dan Kamboja. Yusmar Yusuf dalam karyanya Studi Melayu mengamini van Eerde tentang kepindahan manusia dari dataran Asia dan Afrika masuk ke kawasan Kepulauan yang hari ini bernama Indonesia, berlangsung berpuluh-puluh abad sebelum Masehi. Orang-orang itu berasal dari Indo-Cina yang di dalamnya terdapat ras Mongoloid. Tapi sebelumnya, ras Negroid (Negrito) yang berasal dari Afrika telah lebih dahulu tiba serta mengalami perbauran dengan ras Weda (Weddoid) asal Sri Lanka.[3]

Pada perkembangan kemudian, kepulauan Nusantara (Indonesia) dihuni oleh dua ras utama yakni Mongoloid dan Australomelanesoid. Nama yang disebutkan terakhir (Autralomelanesoid) kadang juga disebut sebagai “Palaeomelanesia”, ada yang bercampur dengan Mongoloid di daerah Wallacea. Lebih tepat kalau di daerah ini dikatakan percampuran berbagai ras, sedangkan di Indonesia Barat ras Mongoloid lebih dominan. Nah, kemudian dalam ras Mongoloid muncullah sub-ras “Malayid” yang berbeda dari Mongoloid lain, dan lebih mudah dilihat pada orang hidup, tetapi sukar dilihat pada rangka. Percampuran berbagai ras / bangsa itu lalu menghasilkan sebuah identitas baru yang disebut Melayu. Yunani Hasan memperjelas bahwa Melayu sebagai bahasa telah ada sebelum 2500 tahun yang lalu. Sedangkan Melayu sebagai nama kerajaan diperkirakan ada antara 1000-1500 tahun silam.[4]

Sastrawan kenamaan yang mempunyai minat cukup besar pada sejarah seperti Sanusi Pane menuliskan bahwa sesudah kerajaan Nusantara berdasarkan berita Cina tahun 563 bernama Kan-t’o-li, yang olehnya disepadankan dengan “Kandari”, tidak terdengar lagi di dalam sejarah, antara 644-645 M berita Cina menyebut kerajaan lain yakni Mo-lo-yeu, atau “Melayu.” Menurut berita itu, Melayu mengirimkan utusan ke Cina / Tiongkok untuk mempersembahkan hasil-hasil bumi kepada kaisar.[5] Buku Sejarah Tamadun Melayu tulisan Dr. Ellya Roza,M.Hum., di mana ia mengulas bahwa nama “Melayu” kemungkinan besar berasal dari bahasa Tamil, yang mana kata ‘Malay’ berarti “Tanah Tinggi” atau “Bukit.” Hal ini, menurut Ellya, bersesuaian dengan yang tertulis dalam Sejarah Melayu (kemungkinan karangan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi) bahwa negeri orang Melayu pada awalnya berasal dari Bukit Siguntang yang terletak di daerah Palembang, Sumatera Selatan.[6]

Agar tidak terjebak dalam ketidak seimbangan informasi, perlu diingat bahwa selama ini “Melayu” sebagai sebuah kesatuan politik terletak di wilayah Jambi. Sedangkan Palembang sendiri merupakan tempat lahirnya kekuatan politik Sriwijaya. Jarak antara Palembang dan Jambi tidaklah bisa dibilang dekat. Selain itu berita Cina pada tahun 644/645 M di atas menegaskan bahwa Melayu telah ada sebelum Sriwijaya berdiri, yang mana sumber tertua Sriwijaya sendiri adalah Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 682 M. Jarak 640an Masehi dan 680an Masehi tentu cukup signifikan. Penulis meyakini di sini dugaan sejarawan Prof. Dr. O.W. Wolters menjadi cukup kuat; bahwa sebelumnya Sriwijaya merupakan negeri bawahan Melayu, kemudian Sriwijaya memerdekakan dirinya untuk bangkit sebagai kekuatan baru. Hal itu disebabkan karena berdasarkan penelitian geomorfologi, Jambi di abad ke-7 sangatlah strategis sehingga Kerajaan Sriwijaya-Palembang berusaha menaklukkannya agar dapat menguasai Malaka.[7]

                Melayu adalah “Hulu” dari sejarah Kerajaan Sriwijaya. Prasasti-prasasti utama dan tertua kerajaan ini memakai bahasa Melayu Kuno seperti Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, dan Telaga Batu. Melalui dominasi politiknya, Sriwijaya ikut berperan besar menyebarkan kemelayuan, dan bukti-bukti otentiknya yang bisa dilihat pada masa kini adalah adanya peninggalan prasasti-prasasti berbahasa Melayu Kuno di tanah Jawa : Prasasti Sojomerto, Majusrigrha, Dang Pu Hawang Geulis, Gunung Sundoro, Bukateja, Sang Hyang Wintang, dan Kebon Kopi.[8] Sekarang bukan lagi menjadi waktu yang benar untuk mempersoalkan “Siapa yang lebih Melayu ?”, melainkan kita harus mengunduh manfaat dari sejarah lampau. Seperti yang telah disebutkan di atas, akan sangat sulit untuk “Mengklaim Melayu”, karena Alam Melayu begitu luas, sejarahnya-pun begitu tua.

Dengan kemajuan yang diperoleh manusia era modern ini, eloknya kita terus menggiatkan berbagai aktifitas untuk tujuan yang positif. Kelihatannya, untuk membangun motivasi itu, kita mesti meminjam ulasan Mochtar Lubis tentang pandangan orang Belanda terhadap orang Melayu yang dianggapnya memiliki sifat baik seperti : bergairah (harstochtelijk), jujur, ramah kepada tamu, dan formil.[9] Dengan motivasi yang bergairah, kita dapat menghimpun beragam manfaat dari mempelajari peradaban Melayu, menyajikannya secara jujur dan ilmiah, dan terbuka bagi siapapun yang tertarik  untuk belajar maupun ingin memberikan kontribusi pengetahuan. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud dapat berbentuk sekecil-kecilnya ialah kelompok belajar, ataupun diskusi-diskusi ilmiah, termasuk pula meramaikan penulisan kesejarahan di media-media online dan cetak bagi bahan bacaan masyarakat. Niscaya dengan itu semua kemelayuan akan semakin lestari nan abadi.

Sumber :

1.Khaidir, Afriva, Kebijakan Kejiranan (Neighborhood Policy), Jakarta : Kencana, 2016. Hlm. 61-62.

2.Hasan, Yunani, “Menelusuri Asal Usul Bangsa Melayu”, dalam Jurnal Criksetra Vol. 3 No. 5 Tahun 2014. Hlm. 29.

3. Yusuf, Yusmar, Studi Melayu, Jakarta : Wedatama Widyasastra, 2009. Hlm. 17-18.

4.Op.Cit. Hlm. 28.

5. Pane, Sanusi, Sejarah Nusantara : Kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara, Bandung : Sega Arsy, 2018. Hlm. 33.

6. Roza, Ellya, Sejarah Tamadun Melayu, Yogyakarta : Aswaja Pressindo, 2016. Hlm. 15.

7.Irfan, Nia Kurnia Sholihat, Kerajaan Sriwijaya, Jakarta : Girimukti Pasaka, 1983. Hlm. 94.

8. Melebek, Abdul Rashid, Sejarah Bahasa Melayu, Kuala Lumpur : Utusan Publication, 2006. Hlm. 37.

9. Lubis, Mochtar, Manusia Indonesia,  Jakarta : Yayasan Pustaka Obor, 2016. Hlm. 4.

Oleh :


Arya Nopriyansyah,S.Pd.

(Anggota Studie Club ‘Gerak Gerik Sejarah’)

Penulis : citizen journalis
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Melayu Sriwijaya

Komentar