21 Mar 2020 19:50

Palembang Kota Ilmu : Islamic Center dan Percetakan Buku

Palembang Kota Ilmu : Islamic Center dan Percetakan Buku

Kaganga.com - Menurut akademisi sejarah Universitas Sriwijaya, Hj. Yunani Hasan,M.Pd., rentang waktu antara (akhir) abad ke-11 sampai 14 M ialah masa menurun / kemunduran yang cukup panjang bagi kebesaran agama Buddha bersamaan dengan keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Saat itu terjadi pergeseran sistem (Cultural Value System) masyarakat Melayu, di mana nilai-nilai budaya Islam mulai dianut oleh masyarakat, seturut dengan berpindahnya pusat perdagangan dari pantai timur Jambi ke wilayah Riau dan Semenanjung Malaya. Memang, kemunduran Sriwijaya kerap dikaitkan dengan memburuknya hubungan dengan Kerajaan Colamandala, tatkala Rajendracoladewa memerintah. Penyerangan terhadap Sriwijaya dilakukan setidaknya dua kali yakni pada 1017 dan 1025. Tapi kemudian setelah itu terjadi serangkaian kekacauan yang melanda Sriwijaya akibat usaha penaklukan oleh bangsa asing seperti Ekspedisi Pamalayu Kerajaan Singasari, penyerangan oleh bajak laut Cina, hingga akhirnya angkatan laut Majapahit dapat mengalahkan para perompak dan menjadikan sisa Sriwijaya sebagai jajahannya.


Pada masa menjelang runtuhnya Majapahit, Palembang dipimpin oleh seorang putra dari Brawijaya V (raja terakhir Majapahit) yang bernama Arya Damar. Sebelum ditugaskan di Palembang, Arya Damar menerima bekas selir ayahnya yakni Putri Cina yang tengah mengandung anak Brawijaya V – kelak bernama Raden Patah sultan pertama Demak. Di Palembang ini Arya Damar memeluk Islam dan berubah nama menjadi Ariodillah. Raden Husin adalah putra hasil perkawinan Ariodillah dengan Putri Cina, kelak saat pindah ke Jawa Husin diangkat sebagai Kepala Keprajuritan Keraton Majapahit bergelar Raden Tandaterung. Berdasakan kenyataan-kenyataan itu, hampir sulit menafikan posisi Palembang sebagai “Kawah Candradimuka” bagi tokoh-tokoh politik Islam pertama di Jawa. Begitupun Arya Menak Senoyo, putra Ariodillah dengan selir lainnya, ia juga pergi ke Jawa setelah cukup dewasa. Menak Senoyo yang dididik di Palembang memiliki peran dalam mendirikan Kerajaan Parupuk, cikal bakal Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan-Madura. Ia juga berhasil mengembangkan pembuatan kapal, menghidupkan transportasi sungai, serta merintis industri tenun tradisional.


Melihat kenyataan di atas, bahwa para bangsawan keturunan Majapahit (Raden Patah, Raden Tandaterung, dan Arya Menak Senoyo) dapat berperan besar setelah mereka tiba di Jawa, tentu tak akan pernah terjadi jika mereka tidak dididik dengan baik selama di Palembang. Tetapi sayangnya masih belum ditemukan dengan jelas bentuk maupun bukti keberaksaraan di masa akhir Majapahit yang ditandai sebagai masa awal keislaman. Pastinya Palembang di masa itu menjadi bawahan dari kekuatan politik di Jawa seperti Kesultanan Demak, hingga berlanjut di bawah Kesultanan Mataram. Namun ketika memasuki era 1600-an, Palembang memiliki sebuah karya besar di bidang literasi yakni dengan dirumuskannya Undang-undang Simbur Cahaya. Berdasarkan sambutan K. Wantjik Saleh,S.H. selaku Hakim Pengadilan Negeri Palembang untuk terbitannya pada tahun 1976, beliau menuliskan bahwa undang-undang itu merupakan suatu hukum adat yang tertulis dan hasil-karya Almarhum Senuhun Sesuhunan Palembang beserta para menteri dan Alim-Ulama, kira-kira tahun 1630 M. Penulis hukum adat itu ternyata bukan seorang lelaki, melainkan Ratu Sinuhun, Permaisuri Pengeran Sida Ing Kenayan. Akademisi sejarah Universitas Sriwijaya, ibu Aulia Novemy Dhita Surbakti,M.Pd. dalam komentarnya pada buku Rampai Sejarah Keindonesiaan dan Keislaman berpendapat :


Ratu Sinuhun (Permaisuri Pengeran Sida Ing Kenayan) digambarkan sebagai wanita yang cerdas. Bahkan dalam momen Hari Kartini, beliau disebut sebagai Kartini Wong Palembang. Kecerdasan Ratu Sinuhun, paling jelas terlihat saat melahirkan Undang-Undang Simbur Cahaya. Salah satu bab dalam undang-undang tersebut mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan. Seorang laki-laki yang menyenggol perempuan, akan didenda sebesar dua ringgit. Denda akan semakin naik sampai 24 ringgit, apabila melarikan istri orang lain. Nilai-nilai yang ditanamkan Ratu Sinuhun dalam Undang-Undang Simbur Cahaya, telah mendasari kehidupan masyarakat pada masa Kesultanan Palembang.


            Hubungan Palembang dan Mataram kemudian merenggang. Hal ini dipicu oleh pengabaian Mataram tatkala Palembang diserang VOC pada tahun 1659. Serangan VOC mengakibatkan Keraton Kuto Gawang dibakar habis, demikian juga Kuto maupun pemukiman penduduk Portugis, Cina, Arab, dan bangsa lainnya di seberang Kuto. Pangeran Sido Ing Rajek mengungsi ke pedalaman dan kekuasaannya berpindah pada adiknya yakni Pangeran Ratu Ki Mas Hindi. Kota itu akhirnya dapat direbut lagi oleh pasukan Palembang dan kemudian dilakukan lagi pembangunan-pembangunan ulang. Ki Mas Hindi berusaha mengikat lagi hubungan dengan Mataram, namun justru penghinaan yang didapat oleh Palembang. Bagi Ki Mas Hindi yang merasa tersinggung, inilah waktunya untuk memutus hubungan sosio-kultur maupun ideologis Palembang dan Mataram. Setelah mengangkat diri sebagai Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam atau dikenal juga sebagai Sunan Cinde Walang, ia menetapkan perubahan-perubahan dalam sisi kultural. Keris dan pakaian Jawa berubah menjadi keris dan pakaian Melayu. Meski bahasa Jawa masih digunakan dalam lingkungan Keraton namun penduduk kebanyakan memakai bahasa Melayu Palembang. Ternyata, perubahan itu juga mengena pada aspek keberaksaraan. Aksara Jawa diganti dengan aksara Melayu-Arab (Arab Gundul / Aksara Jawi).


            Palembang menjadi salah satu kubu Islam (Islamic Center) di dunia Melayu ialah tak lepas dari munculnya Kesultanan Palembang ada awal abad ke-17. Sejak awal para sultan menunjukkan minat pada bidang keagamaan serta mendorong tumbuhnya pengetahuan dan iklim keilmuan di bawa patronase mereka. Hal ini yang menurut Oman Fathurahman (2009) menambahkan bahwa fenomena ini menegaskan tesis tentang Islam sebagai fenomena istana, yang menempati posisi strategis dalam wacana keilmuan Islam di kepulauan Melayu-Indonesia. Kesultanan Palembang memiliki para Ulama – dalam bahasa Arab berarti Ilmuwan atau peneliti – yang menulis, menerjemahkan, serta menyalin kitab-kitab Islam di negeri Palembang sepanjang abad ke-18 dan ke-19. Ulama-ulama yang termasyhur produktif pada era kesultanan Palembang ialah : Syihabuddin bin Abdullah Muhammad, Kemas Fakhruddin, Muhammad Muhyiddin, Kemas Muhammad bin Ahmad, serta pastinya Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani.


            Minat pada bidang literasi juga ditunjukkan oleh pahlawan nasional kebanggaan Palembang yakni Sultan Mahmud Badaruddin II. Dalam kehidupan sehari-hari, selain menjadi seorang suami yang baik dan sebagai ayah yang bijaksana, ia dikenal karena ketaatan dan kealimannya dalam beragama. Sang Sultan juga mahir dalam mengarang dan beliau pernah mengarang buku, termasuk buku mengenai agama. Tak heran jika beliau menyandang predikat penguasa sekaligus penulis. Hikayat Martalaya yang isinya bersifat sejarah, adalah karangan Sultan Mahmud Badaruddin II; Syair Nuri juga gubahan sang sultan. Adik Sultan Mahmud Badaruddin, yaitu Panembahan Bupati, menggubah Syair Patut Delapan dan Syair Kembang Air Mawar. Situasi berubah ketika tahun 1821 terjadi perebutan Keraton Palembang oleh pemerintah kolonial Belanda. Sejak saat itu, secara berangsur-angsur peran Sultan dan para bangsawan merosot karena Keraton pun ikut dilenyapkan. Keruntuhan Keraton Palembang menyebabkan naskah tercerai-berai, jatuh ke tangan berbagai kalangan masyarakat. Selain menyebar ke tengah masyarakat, koleksi perpustakaan yang dijarah itu banyak pula yang pindah ke Inggris, Prancis, Batavia, dan Belanda. Untungnya berkat kerjasama para pewaris naskah dan Yayasan Pernaskahan Nusantara, pada tahun 2004 berhasil disusun Katalog Naskah Palembang.


            Pekan Pustaka Palembang (2019) telah cukup berhasil memberi informasi berharga mengenai efek positif penyebaran naskah ke tengah masyarakat, yang berdampak pada bidang percetakan. Palembang menjadi kota pertama yang mencetak Al-Quran di kawasan Asia Tenggara menggunakan teknologi cetak-batu (litografi), yakni mengecap di atas himpitan batu dengan khat. Adalah Kemas Haji Muhammad Azhari (1811-1874) yang bertanggung jawab atas penerbitan kitab suci tersebut di Kampung Demang Jayalaksana, 3 Ulu Palembang. Tenaga pencetaknya bernama Ibrahim bin Husin asal Singapura yang tak lain adalah murid dari Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Kolofon mushaf ini memuat keterangan pencetakan selama 50 hari. Selesai pada 21 Agustus 1848 (pantas dianggap sebagai Hari Buku Palembang), dengan hasil sebanyak 105 eksemplar.


 Selain itu, penyebaran naskah ke luar Keraton ikut memunculkan gairah membaca di tengah masyarakat. Pada dekade 1860-an pernah ada sebuah perpustakaan yang menyewakan naskah-naskah salinan tangan kepada penduduk Palembang. Kajian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa para pelanggan perpustakaan adalah penduduk dari kalangan umum, bukan bangsawan. Dinamika keberaksaraan masyarakat Palembang era kolonial juga terlacak pada kemunculan penerbit-penerbit lokal, contohnya adalah buku Syair Hasan Masri koleksi Perpustakaan Universiti Malaya adalah terbitan 1905 dari percetakan Sayyid Hamid Al-Habsyi di Kampung 13 Ulu Palembang. Penerbit lainnya di akwasan Seberang Ulu ialah Almasawa. Perusahaan kalangan Eropa yakni N.V. Industriele Maatschappij Palembang (IMP) berdiri pada 1898 dan berfokus pada usaha galangan kapal, juga turut ambil bagian dalam industri buku. Divisi usaha perbukuan IMP sejak 1934 beralih kepemilikan ke K.A. Ebeling yang mendirikan Drukkerij en Boekhandel KA Ebeling. Perusahan Ebeling ini bertahan hingga dekade 1950-an.

Oleh :

Arafah Pramasto,S.Pd.

(Pendamping PKH dan Anggota Studie Club Gerak Gerik Sejarah)

 

Penulis : citizen journalis
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Palembang Kota Ilmu

Komentar