18 Mei 2019 13:00

Residen Abdul Rozak Sang Felle Republikein (Bagian I)

Residen Abdul Rozak Sang Felle Republikein (Bagian I)

Oleh :

Sapta Anugrah,S.Pd.

(Train Attendant dan Ketua Studie Club ‘Gerak Gerik Sejarah’ Palembang)

Kaganga.com - Perjuangan rakyat Sumatera Selatan termasuk salah satu yang amat penting di masa Revolusi Fisik. Sekalipun penekanan pengkajian lebih dititikberatkan kepada perjuangan pulau Jawa era itu, namun apa yang terjadi di Sumatera Selatan termasuk suatu hal yang perlu diperhitungkan. Sebagaimana banyak kejadian dalam potongan sejarah di dunia ini, dalam masa kalut sekalipun akan muncul nama-nama yang patut dikenang. Sumatera Selatan telah memiliki Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai Pahlawan Nasional. Nama lainnya seperti Adenan Kapau Gani juga tidak lagi asing dalam  kesejarahan negeri ini. Kini, nama Residen H. Abdul Rozak, seorang residen Palembang yang turut berperan serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pantas untuk menghiasi jajaran kusuma bangsa sebagai seorang Felle Republikein (Republikan yang Tegas) dan setia dalam perjuangan melindungi seruan Proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam Seminar Calon Pahlawan Nasional pada 10 Maret 2015, beberapa tokoh seperti Bapak Tri Sutrisno, Hutamar Rasyid, Mestika Zed, dan Dr. Farida R. Wargadalem ikut serta dalam memberikan makalahnya tentang “peran kunci” Residen H. Abdul Rozak pada masa perjuangan Revolusi Fisik di wilayah Sumatera Selatan. Mari kita baca lagi mengenai kiprahnya.

Terlahir Sebagai Anak Bangsawan

Abdul Razak terlahir pada tahun 5 September 1891 dari keluarga elit tradisional Uluan suku Komering. Ayahanya adalah Pangeran Haji Muhammad Ali Djajadiningrat, seorang Pasirah Marga Madang Suku I yang membawahi 14 Desa. Tepatnya di dusun Rasuan sebagai putra ke-7 dari sembilan bersaudara. Saudara-saudaranya yang lain adalah Muhammad Arsjad, Abdul Hamid, Abdullah, H. Muhammad Saleh, H. Muhammad Akib, Muhammad Joesoef, Zainal Abidin, dan H. Moekti. Seperti diketahui, marga terdiri atas beberapa dusun. Adapun dusun terbagi menjadi beberapa kampung. Kalau kepala marga adalah pesirah, maka kepala dusun adalah “Krio”, dan kepala kampung adalah “Penggawa.” Dusun yang menjadi ibukota marga dipimpin oleh “Pembarap” setingkat dengan Krio akan tetapi ia sebagai kepala dusun tempat kediaman pesirah. Jajaran pemerintahan lainnya seperti dalam bidang keagamaan, diangkatlah “Penghulu” untuk tiap marga dan khotib bagi dusun-dusun.

      Abdul Rozak selaku putra ketujuh dari sembilan bersaudara sadar benar akan kedudukannya. Menurut adat kebiasaan di Sumatera Selatan umumnya, tidak terkecuali Dusun Rasuan tempatnya tinggal, kedudukan anak lelaki dalam keluarga lebih banyak mengandung tanggung jawab daripada anak perempuan, apalagi anak lelaki itu adalah yang tertua dalam satu “keluarga inti.” Ia akan dianggap sebagai “Penegak Jurai” (Penyambung Dinasti / Keturunan) dari keluarga inti itu. Sebagai putra ketujuh dari sembilan bersaudara, Abdul Rozak tidak mendapat keistimewaan “pola pengasuhan” dalam keluarga. Anak-anak dalam urutan kelahiran demikian pada umumnya akan lebih banyak mendapatkan pengetahuan seperti “tata krama” dan berbagai adat “sopan santun” dengan mencontoh dari saudara-saudaranya yang lebih tua atau dari teman-teman sebayanya. Tampaknya inilah yang menempa diri Abdul Rozak sebagai seorang yang kuat kelak.

Pendidikan dan Karir

Abdul Razak menempuh pendidikan awal di Sekolah Rakyat. Saat itu elite Tradisional Uluan muncul dalam bentuk berbeda dalam mengenyam pendidikan yang muai digalakkan oleh pihak Belanda pada awal abad ke-20. Pada perkembangannya elite Uluan mulai mendapat tempat, dengan dibukanya Sekolah Kelas Dua atau VervolksSchool pada 1910 dan Volks School pada 1915. Pendirian sekolah-sekolah itu umumnya berdiri di Ibukota Marga, otomatis penikmat pertama pendidikan ini adalah anak-anak elite Uluan. Kelompok elite Uluan banyak menempati posisi Juru Tulis, Mantri Polisi, Guru, dan Pengawas Sekolah. Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dengan makin majunya daerah Uluan, dan berkembangnya berbagai perkebunan karet, kopi, lada, dan pertanian padi.

Memang basis pendidikannya ialah Sekolah Desa atau Sekolah Dasar, akan tetapi ia memiliki kecakapan dan kemampuan yang cukup untuk kedududkannya sebagai magang. Hal ini antara lain didapat dari lingkungannya sendiri dimana ayahnya adalah seorang Pangeran Kepala marga Madang Suku I. Sebagai seorang remaja, ia tidak segan-segan belajar dari kantor ayahnya. Ini pulalah yang menjadi bekal dan dasar baginya bekerja sebagai Magang di Banding Agung. Abdul Rozak mendapat kesempatan yang baik pula dalam pengembangan jiwa seninya antara lain dengan mengamati Danau Ranau yang indah dan gunung Seminung yang menjulang di sebelah barat Danau Ranau Kabupaten OKUSEL. Sedemikianlah latar belakang keluarga dan masyarakat dari Abdul Rozak yang membinanya menjadi pribadi yang terbilang besar.

Selama kurang lebih enam bulan, ia bekerja Magang di Banding Agung terhitung sejak Mei 1906 dan pada bulan Desember 1906 ia sudah pindah bekerja juga sebagai Magang sekaligus sebagai Juru Tulis pada kantor Controleur di Muara Dua. Jabatan Magang Juru Tulis ini dijalaninya sejak Januari 1907 hingga Juli 1912, jadi selam lima tahun setengah. Abdul Rozak adalah pegawai yang tekun, baik, juga dalam menambah ilmu pengetahuan. Ia biasa dikatakan sebagai seorang otodidak sejati. Karirnya terus berkembang seiring dengan kecakapannya bertugas. Pada bulan Juli 1912-Maret 1914, jadi selama delapan bulan ia menjabat sebagai Mantri Blasting atau pajak adalah salah satu jabatan dalam Onder Afdeling atau Kewedanaan yang dikepalain oleh seorang Demang. Seperti dimaklumi Kewedanaan denganDemang sebagai kepalanya khusus diperuntukkan bagi orang-orang pribumi. Demang dibantu anatara lain oleh Mantri Polisi dan Mantri Blasting juga adalah pribumi. Mereka disebut sebagai pegawai negeri (Ambtenaar). Untuk Gubernur, Residen, Asisten Residen, dan Controleur semuanya orang Eropa, mereka ini disebut Nederlaandsche Corps van Het Binnendland Bestuur.

Ketekunan dalam menjalankan tugas membawa H. Abdul Rozak selalu dalam kesuksesan. Pada bulan Maret 1914-April 1916 lebih dari dua tahun ia diangkat menjadi Mantri polisi di Surolangun Rawas. Sebagai seorang pemuda dalam usia 23 tahun, H. Abdul Rozak melangkah pula dalam kehidupan berumah tangga dengan seorang gadis dari Surolangun Rawas. Rumah tanggga dibina sejalan pula dengan pengabdian pada masyarakat, karirnya terus meningkat. Dari pernikahannya, beliau mendapatkan tiga orang putra dan dua orang putri yaitu Siti Aminah, Maximilian, Helina, Sayuthi, dan Tradumas. Kini jabatan sebagai asisten Demang di Bayung Lencir dipercayakannya pula kepadanya, terhitung sejak Mei tahun 1916- Mei 1917. Masa satu tahun di Bayung Lencir merupakan pertanda bahwa H. Abdul Rozak benar-benar seorang pejabat yang berdedikasi tinggi.

Pada januari 1917 itu pula, ia diangkat sebagai Wachgelder dan Clerk Agraria pada Kantor residen di Palembang. Jabatan inipun dipegangnya selama dua tahun dan berakhir pada Juni 1917. Masuknya H. Abdul Rozak di kantor residen Palembang tidak berarti bahwa karirnya akan terus meningkat dan dalam lingkungan kantor ini saja. Seperti umumnya seorang pegawai, apabila kembali ke kantor induk akan terus berkembang karirnya di kantor itu saja. Maka pada bulan Juli 1919, H. Abdul Rozak sebagai asisten Demang untuk Pagaralam. Jabatan asisten Demang Pagaralam dijabat selama satu tahun dua bulan. Pada september 1920 ia dialih tugaskan pula sebagai asisten Demang untuk Tebing Tinggi. Rupanya di bumi Lematang, Kikim, Pasemah, Lintang (LEKIPALI) ini H. Abdul Rozak bertugas hingga lima setengah tahun lamanya. Untuk Tebing Tinggi dari Oktober 1920-Mei 1923. Jadi dua tahun enam bulan. Begitu pula Asisten Demang Dusun Tanjung Raya (tebing Tinggi) sejak Juni 1923-April 1925 berarti satu tahun sepuluh bulan.

Setelah lima setengah tahun berkedudukan di Lekipali sebagai Asisten Demang, maka sejak Mei 1925 hingga Mei 1929 H. Abdul Rozak menjabat sebagai Demang di Talang Pangeran, terhitung sejak Mei 1925 hingga Oktober 1925 jadi selama lima bulan, kemudian Demang di Tanjung Raja terhitung November 1925 hingga Mei 1929. Jadi selama tiga setengah tahun sebagai Demang untuk Onder Afdeling Lematang Ilir ini Haji Abdul Rozak dihadapkan pada tugas dan tanggungjawab yang meningkat pula. H. Abdul Rozak menjabat sebagai Demang di Pagaralam terhitung sejak Juni 1929 hingga Oktober 1931 selama dua tahun tiga bulan. Masih sebagai Demang, November 1931 sampai 1934 bertugas di Lahat dua setengah tahun. Beliau termasuk golongan intelegensia yang berpikir dan berbuat untuk masyarakat pada setiap tempat dimana ia bertugas, pada Juni 1929 hingga Februari 1942.

Seperti dimaklumi pada tanggal 16 Februari 1942, Pasukan Jepang telah berhasil menduduki Palembang dan sekitarnya. Pada rakyat yang mereka duduki, Jepang sering melakukan pelanggaran HAM yang menimbulkan antipati. Namun, seperti umum terjadi pada rakyat di seluruh Indonesia, tidak banyak yang dapat dilakukan karena Jepang bertindak sangat kejam dan represif. Sebuah contoh kekejaman mereka ialah penangkapan para pemimpin rakyat Palembang seperti dr. A.K. Gani, A.S. Mattjik, dr. Supaat, Abdul Rozak, M. Basri, serta puluhan lainnya termasuk Yap Thiam Hoo (tokoh Tionghoa) dan Bung Titaley (tokoh Maluku). (Bersambung ke Bagian II)

Penulis : citizen journalis
Editor : Riki Okta Putra

Tag : H Abdul Rozak Residen Pahlawan

Komentar