18 Mei 2019 13:35

Residen Abdul Rozak Sang Felle Republikein (Bagian II / Habis)

Residen Abdul Rozak Sang Felle Republikein (Bagian II / Habis)

Oleh :

Sapta Anugrah,S.Pd.

(Train Attendant dan Ketua Studie Club ‘Gerak Gerik Sejarah’ Palembang)

Pegawai Jepang yang Menjaga Iman

Setelah H. Abdul Rozak dibebaskan dari tahanan, Jepang berusaha mendekati para elit birokrasi maupun intelektual Sumatera dengan mengundang mereka untuk datang / hadir ke Tokyo. beberapa tokoh dari Sumatera di Undang ke Jepang dan salah satunya ialah  H. Abdul Rozak. Saat sampai di Jepang tepatnya di kota Tokyo, Rombongan ditempatkan di hotel Dai Ichi. Salah satu agenda dari kunjungan itu adalah mengunjungi istana Kaisar. Di Jepang, penghormatan kepada Tenno Heika yang dianggap sebagai “putra tuhan” melakukan Sae-Kere sebagai tanda penghormatan. Jelas hal itu ditolak oleh Rombongan Abdul Rozak yang mayoritas muslim, contohnya ialah seorang anggota rombongan dari Aceh.

Alhasil  untuk mencari jalan keluar dari keteganggan ini, Sato sebagai anggota penerjemah kemudian menyarankan agar para anggota rela untuk sekedar menganggukan kepalanya sebagai sebuah simbol universal : contohnya untuk menyatakan persetujan. Perlu ditanyakan mengapa Abdul Rozak bukan seseorang yang melakukan protes keras itu, jelaslah sebagi seorang politisi muslim ia menyadari bahwa ada urgensi yang lebih besar nanti ketimbang mati terbunuh secara konyol. Tampaknya hikmah dari kunjungan ke Jepang inilah yang membuat ia dapat bertahan di masa Agresi Militer Belanda karena ia melihat aspek kemajuan militer Jepang.

Tindakan Abdul Rozak bisa menjadi cerminan atas tragedi radikalisme akhir – akhir ini di Indoensia. Sebagaimana Syafii maarif menyatakan bahwa dalam memperjuangkan nilai – nilai mulia Islam di muka bumi, satu – satunya jalan terbaik adalah dengan mengembangkan sikap kreatif dan menguasai sumber – sumber kekuatan pihak lain Bagaimanapun  Abdul Rozak tidak juga membungkukkan badan sebagaimana Sae-Kere secara ritual. Secara pendekaten fikih politik Islam, Muhammad Iqbal berpendapat bahwa perperangan hanyalah dibolehkan dalam situasi yang sangat terpaksa. Berkaitan dengan kondisi Kekaisaran Jepang yang saat itu masih dalam posisi yang kuat, tentu sedikit saja perlawanan dapat ditindak dengan kejam dan rakyat menjadi korban.

Residen yang Berjuang di Sisi Rakyat

Kekalahan Jepang terhadap sekutu membawa pengaruh langsung kepada wilayah Indonesia salah satunya di Sumatera Selatan, karena Belanda di boncengi NICA kembali tiba untuk mengusai Indonesia kembali. Tersebutlah Abdul Rozak sebagi salah satu tokoh Sumatera Selatan  yang menghadiri penyerahan Jepang. Dalam tatanan pemerintahan awal yang dipimpin oleh A.K. Gani, Abdul Rozak menempati posisi sebagai Sekretaris. Keberadan prajurit Belanda di kota Palembang membawa situasi semakin memanas antara pihak Republik Indoensia dengan Belanda. Pada tahun 1947, tembak menembak terjadi antara Belanda dan para pemuda setempat yang memicu Perang Lima Hari Lima Malam. Saat itu juga Abdul Rozak di angkat sebagai Residen Palembang menggantikan M. Isa.

Kekaguman pada tokoh pejuang Sumatera Selatan ini juga didapatkan dari loyalitasnya di saat Indonesia mencapai kemerdekaan yang harus dipertahankan. Ia tidak memandang tentang dirinya yang seorang anak bangsawan feodal dan bersedia mempertahankan kemerdekaan RI kelak. Residen H. Abdul Rozak menunjukkan sikap penolakannya untuk kembali tunduk pada Belanda yang berarti juga menolak untuk kembali menjadi “abdi” penjajah itu. Apa yang ia lakukan senada dengan pidato Soekarno yang menolak feodalisme :

“Kami bukan pula mufakat dan cinta kepada aturan – aturan feodal itu. Kami mengetahui kejelekan – kejelekannya bagi rakyat. Kami hanyalah menunjukan kepada rakyat, bahwa feodalisme kami hari dulu iyu adalah feodalisme yang hidup, feodalisme yang sakit-sakitan,... feodalisme yang penuh dengan kemungkinan – kemungkinan berkembang dan yang umpamanya tidak diganggu hidupnya oleh impralisme asing, niscaya bisa “meneruskan perjalanannya”, bisa “menyelsaikan evolusinya”, yakni niscaya bisa hamil dan akhirnya melahirkan suatu peran suatu pergaulan hidup modengaulan hidup modern yang sehat pula.”

Inilah letak peran kunci Abdul Rozak dalam revolusi fisik di Palembang. Perang Lima Hari Lima Malam membawa konsekunsi hijrahnya komponen pemerntahn sipil dan militer keluar Palembang. Abdul Rozak sebagai dari pemerintahan sipil tidak lantas berdiam diri di Palembang dan rela dikendalikan oleh Belanda. Ia pergi ikut begeriliya bersama Bambang Utoyo selaku satuan militer. Apa yang dilakukan Abdul Rozak itu menunjukan tanggung jawabnya sebagaimana yang ada didalam hadist Rasullulah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad yakni “Orang yang diserahi kekuasaan urusan dunia, lalu menghindar dan mengelak tidak melayani kaum yang lemah dan orang – orang yang membutuhkan, maka Allah tidak akan mengindahkanya pada Hari Kiamat” . Di dalam sejarah Islam tercatat sembilan perang yang Nabi secara langsung memimpin perang bersama – sama dengan masyarakat Islam pada waktu itu. Nabi berperan sebagai pemimpin agama dan kepala negara yang sekaligus menjadi panglima tertinggi angkatan perang . Korelasi antara hadist Imam Ahmad di atas dan fakta sejarah Nabi Muhammad SAW itu, menjadi Inspirasi positif bagi Abdul Rozak.

Abdul Rozak dalam perjuang itu, geriliya adalah jalan yang penuh resiko unuk seorang pemimpin sipil karena belanda bisa menganggapnya sebagi orang yang terlibat langsung dalam perlawanan militer. Ia berpindah dari tempat ketempat lainnya. Pertama untuk keluar dari kota Palembang ia dengan menaiki kapal di saat militer Belanda beroperasi sepanjang Sungai Musi yang berhasil di lewatinya. Perjalananpun berlanjut ke Tanjung Sejaro dimana ia juga sempat digeledah oleh Polisi militer Belanda dan terselamatkan  karena Trajumas, putranya yang berhasil mengelabui aparat penjajah itu. Ia bukan lari dari tanggung jawab namun ia “berhijrah” untuk sebuah perjuangan lainnya : kata Hijrah sendiri seperti hijrahnya Nabi Muhammad SAW, berdasarkan penjabaran menurut Nurcholish Madjid, selain memiliki makna fenomena fisik (pindah) tetapi juga memiliki makna sepiritual dan kejiwaan, yaitu tekad yang tidak mengenal kalah dalam perjuangan menegakan kebenaran.

Perjalananya kemudian berlanjut sesuai ritme dan eskalasi politik yang terjadi. Ia hijrah ke Lahat hampir bersamaan dengan Agresi Militer Belanda I, saat itu pemerintahan keresidenan Palembang pindah ke Lubuk Linggau dan disana ia berperan dalam mengeluarkan instruksi kepada pegawai negeri yang ada di Sumatera Selatan untuk tidak membantu kepentingan Belanda apapun itu. Pada Agresi Militer II Belanda segera melakukan penyerangan cepat ke wilayah Lubuk Linggau sebagi pemerintahan sipil. Dimasa genting itu Residen Abdul Rozak masih sempat memikirkan adanya reorganisasi dan rasionalisasi angkatan perang serta termasuk yang membawahi integerasi laskar – laskar rakyat kedalam Tentara Republik Indonesia. ketika Lubuk Linggau diduduki Belanda ia berturut – turut pidah ke Padang Ulak Tanding, Dusun Lubuk Alai, Lubuk Sepang, Lubuk Babatan, dan yang terakhir menuju Tanjung sakti disana ia sempat pula mencetak uang sebagai usahanya untuk memukul Belanda secara ekonomi.

Segala tindakan yang dilakukan oleh Abdul Rozak ini tidak secara sederhana dapat disebut sebagai tindakan politis semata karena semua tindakan yang ia ambil didasari oleh tekanan – tekanan militer Belanda. Apa yang di usahakanya akan mengingatkan kita tentang peran Pemerintah Darurat Indonesia. Residen Abdul Rozak enggan untuk takluk dan starateginya dalam memindahkan kekuasaan dar tempat ke tempat lain semata – mata hanya untuk legitimasi keresidenan Palembang sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. dapat dibayangkan jika Residen Abdul Rozak kemudian patah semangat ataupun menyerah, indonesia bukan saja hanya akan kehilangan salah satu motor penggerak revolusi didaerah Sumatera Selatan tetapi bahkan mungkin akan juga kehilangan provinsi beserta kekayaanya.

Seorang pemimpin Abdul Rozak pada hakikatnya dihadapkan kepada berbagai masalah disamping kewajiban negara yang diembannya. Ia membawa seluruh keluarganya untuk mengungsi keluar dan hal ini dipatuhi sepenuhnya oleh keluarganya tersebut. Apakah mungkin seseorang yang tidak berhasil mendidik anak istrinya bisa mendapatkan kepatuhan yang begitu mengagumkan padahal bisa saja anak istrinya merasa mereka akan dibawa pada kematian. Hingga akhir hayatnya kelak tidak dikenal sebagai seorang pejuang yang mengambil keuntungan dari perannya dimasa lalu. Setidaknya ada satu jalan dikota Palembang yang dinamai berdasarkan sosok pejuang ini, seorang pejuang yang terlahir sebagai bangsawan yang meniti karir sebagi abdi negara dan besar namanya sebagai pejuang.

 

 

Penutup

Salah satu definisi politik adalah kegiatan menghimpun, mengerahkan, dan menggunakan kekuatan untuk meraih kekuasaan. Saat ini perpolitikan Indonesia sama panasnya dengan kebobrokan moral yang menghinggapi generasi mudanya. Bukanlah sebuah paranoid jika ada rasa takut kita untuk masa mendatang apabila tiada pemuda yang baik yang dapat menghentikan kebiasaan buruk para politisi dan pejabat dimasa kini. Ketika para pemuda merasa sibuk dengan lagu – lagu dan film – film  impor yang cenderung dengan cara hidup pragmatis meraka akan buta terhadap kesengsaraan yang terjadi di sekitar meraka.

Telah bisa digambarkan bagaimana kehidupan Residen H. Abdul Rozak yang terlahir dari seorang bangsawan dan hidup dengan usaha serta kemandirian sejak usia muda guna mengejar karirnya. Kecakapan dalam karir sebagai pegawai pemerintah yang memegang kusas politik sebagai Demang, ia dapatkan dari bawah. Tapi tidak pernah Residen H. Abdul Rozak sampai-sampai melawan hukum untuk mencapai kekuasaannya bahkan ia selalu siap sedia untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dalam tugas dan itu dibuktikannya pula saat Indonesia membutuhkan peran politiknya dalam kehidupan bernegara.

Kini permasalahan pemuda – pemuda bukan semata milik orang tua mereka tetapi secara personal berada di tangan masing – masing pemuda. Menghidupkan kembali potensi positif itu secara riil berada ditangan pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Moto  Historia Vitae Magistra yang berarti sejarah mengajarkan kebijaksanaan dapat di wujudkan dengan menambahkan subjek sejarah lokal yang relevan dengan sejarah nasional dan didalamnya terintegrasi nilai karakteristik bangsa melalui pendekatan tokoh. Kesejarahan lokal memiliki nilai lebih karena objek kajiannya sangat dekat dengan pengetahuan empiris generasi muda di suatu wilayah tertentu. Pemuda indonesia akhirnya dapat menyerap spirit religius yang terbingkai dalam konteks nasionalisme dan tidak lagi mencukupkan dirinya kepada sosok public figure yang menjadi badut dunia hiburan dan politik.

Sumber :

Abdullah, Makmun, dkk., Sejarah Daerah Sumatera Selatan, Jakarta : Depdikbud, 1992.

Fatwa A.M, Pemimpin Jangan Terpenjara Masalah, Jakarta: The Fatwa Center dan Masjid Raya Al-Ittihad,  2013.

Hanafiah, Djohan, dkk., Tokoh Pejuang Kemerdekaan RI Sumatera Selatan : H. Abdul Rozak, Palembang : Pemerintah Provinsi     Sumatera Selatan, 2008.

Iqbal, Muhammad, Fiqh Siyasah: Kobtekstualisasi Doktrin Politik Islam , Jakarta : Gaya Media Pratama, 2001.

Kususmaatmadja, Politik untuk Kaum Muda, Depok: Koekoesan, 2007.

Maarif, Syafi’i, Meluruskan Makna Jihad, Jakarta : CMM, 2005.

Madjid, Nurcholish, Islam Agama Peradaban: mengembangkan Makna Relevansi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Jakarta: Paramadina, 2000.

Rasyid, Hutamar, “Peran Kunci Residen Abdul Razak Mempertahankan Palembang era Revolusi dan Pasca Kemerdekaan”, (Makalah     diajukan pada Seminar Calon Pahlawan Nasional 10 Maret 2015, Palembang)

Said, Abi Hasan, Bumi Sriwijaya Bersimbah Darah : Perjuangan Rakyat Semesta Menegakan Republik Indonesia di Ujung Selatan     Sumatera, Jakarta : Yayasan Krama Yudha, 1992.

Tono,Suwidi, Mahakarya Soekarno –Hatta: Tonggak Pemikiran Bapak Bangsa, Jakarta: Vision 03, 2008.

Wargadalem, Farida R., Abdul Rozak Berjuang Tanpa Henti, Makalah Seminar Calon Pahlawan Nasional 10 Maret 2015, Palembang.

Yahya, Imam, Tradisi Militer Dalam Islam, Jogyakarta: Logung,  2004.

Penulis : citizen journalis
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Abdul Rozak Sejarah

Komentar