22 Nov 2015 18:10

Si Pahit Lidah, Jangan Pernah Membuat Pendekar Ini Menyumpah

Si Pahit Lidah, Jangan Pernah Membuat Pendekar Ini Menyumpah

 

Kaganga.com, Palembang - Dari objek wisata Goa Putri hingga ke Danau Ranau Sumatera Selatan, ada satu nama Legenda yang sering disebut-sebut. Ialah Si Pahit Lidah, atau juga dikenal dengan nama Pendekar Serunting Sakti. Siapa sebenarnya Si Pahit Lidah itu? Kalau Anda pernah menonton film yang dibintangi Advent Bangun sebagai pemeran Si Pahit Lidah, tentu Anda akan tahu mengenai legenda Si Pahit Lidah. Mengapa setiap kata-kata yang keluar dari lidahnya begitu "manjur" sehingga orang pun bisa berubah menjadi batu, atau desa menjadi goa batu.

Dari mana asal muasalnya Si Pahit Lidah? Sang jagoan sebenarnya hanya seorang pembantu yang bekerja pada seorang Kiai sakti. Setelah sekian lama bekerja pada Kiai, ia lalu berkeinginan minta ilmu kepadanya. "Tolonglah Pak Kiai, kalau ada ilmu bagi-bagilah sama saya," kata lelaki itu kepada Pak Kiai. Suatu saat, Pak Kiai juga bosan berkali-kali mendengar permintaan itu. Karena lelaki itu juga sudah ingin pulang ke kampung halamannya, maka dipanggillah lelaki muda itu untuk menghadap Pak Kiai.

Kemudian Pak Kiai meminta lelaki itu untuk membuka mulutnya. Pada saat mulutnya dibuka, Pak Kiai lalu membuang ludah ke dalamnya. "Kamu katanya minta ilmu, ya itulah ilmu yang saya kasih, sekarang kamu boleh pulang', kata Pak Kiai. Nah kesaktian lelaki itu kemudian ternyata terletak pada lidahnya. Kata-kata yang keluar dari lidahnya itu sungguh berbahaya, semuanya bisa terjadi.

Si Pahit Lidah juga mempunyai teman yang sakti, namanya dikenal dengan Nenek (Kakek-Red) bermata empat atau Puyang Mata Empat. Keduanya ingin mengadu kesaktian dengan memilih tempat di sekitar Danau Ranau. Keduanya juga sepakat dengan cara saling ditimpa dengan buah aren, persis di bawah pohon aren. Yang pertama duduk di bawah pohon aren adalah Nenek Bermata Empat dan Si Pahit Lidah naik ke atas pohon aren dan memotong serangkaian buah aren. Begitu rangkaian buah aren jatuh persis di atas ubun-ubun kepala, Nenek Bermata Empat dengan mudah mengelak, karena ia bermata empat. Kendati Si Pahit Lidah marah-marah, tetapi ia tetap harus menghormati perjanjian dan kesepakatan yang telah dibuat.

Giliran Si Pahit Lidah duduk di bawah pohon aren dan Nenek Bermata Empat naik ke atas pohon aren untuk memotong buah aren. Begitu tangkaian buah aren dipotong, rangkaian buah itu jatuh persis di atas kepala Si Pahit Lidah. Tanpa bisa mengelak, karena Si Pahit Lidah tidak bisa memprediksi saat jatuhnya rangkaian buah aren itu, lelaki itu akhirnya mati konyol. Karena penasaran, Nenek Bermata Empat ingin mengetahui lebih jauh mengapa sang jagoan bergelar Si Pahit Lidah, lalu ia mencicipi lidahnya. Dan apa yang terjadi? Sekonyong-konyong Nenek Bermata Empat pun langsung mati karena lidah Si Pahit Lidah mengandung kesaktian.

Kabarnya makam Si Pahit Lidah ada di hutan di kawasan Danau Ranau. Sayangnya tak banyak orang tahu tentang ini termasuk warga setempat. Sebenarnya berbagai legenda yang ada di Danau Ranau dan sekitarnya ini sangat potensial untuk dibuat sebuah paket wisata khusus. Potensi ini harus dikembangkan bukan dibiarkan.

Editor : Riki Okta Putra

Tag : Si Pahit Lidah Danau Ranau Mata empat

Komentar