9 Jun 2019 21:55

Sungai Musi, Perahu Kajang hingga Soal Kemaritiman

Sungai Musi, Perahu Kajang hingga Soal Kemaritiman

Kaganga.com - Kita mungkin pernah mendengar lirik lagu Palembang berjudul Ya Saman dengan salah satu penggalannya : “Lika-liku banyu Batanghari Sembilan, mengalir bermuaro ke Sungai Musi jugo...”, yang berarti “Liku-liku air dari Batanghari Sembilan, mengalir bermuara ke Sungai Musi juga...” Batanghari Sembilan, sebagaimana dalam pendapat M. Santun dkk. mengutip pendapat De La Faille ialah sembilan sungai utama yang mengalir di Sumatera Selatan yakni Batang Leko, Ogan, Komering, Rawas, Rupit, Lakitan, Kelingi, Bliti dan tentu saja Sungai Musi sebagai tempat bermuara delapan sungai lainnya.[1] “Kosmologi Geografis” tradisional Sumatera Selatan yang melambangkan delapan penjuru mata angin dengan penjuru kesembilan sebagai pusatnya (yakni kota Palembang – Pen), bagi sejarawan Johan Hanafiah Batanghari Sembilan tak jauh berbeda dengan pengertian Lebensraum (“Ruang Hidup” bagi masyarakat pada suatu peradaban).[2] Kota Palembang dengan Sungai Musi sebagai tempat bertemunya delapan sungai lain itu, kerap disebut sebagai daerah Iliran (Hilir) juga dikonotasikan dengan kedatangan kemajuan, sebab yang paling pertama menerima perubahan acapkali datang dari daerah hilir sungai, yang kemudian kalau itu memang sampai, baru kemajuan itu menyentuh ke arah dan mengarah ke dunia daerah Uluan (Hulu).[3]

 

Prasasti Kedukan Bukit adalah inskripsi tertua dengan tarikh 16 Juni 682 M yang menceritakan tentang pendirian pemukiman pertama oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa, di dalamnya turut pula diceritakan bagaimana pendirian pemukiman itu dilalui dengan ekspedisi / perjalanan yang berjaya (disebut sebagai ‘Jaya Siddhayatra’) disertai dua laksa (20.000) tentara, dua ratus peti perbekalan, dan Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang nantinya menjadi penguasa Sriwijaya pertama juga turut naik perahu, sementara 1.312 pasukan lainnya berjalan kaki. Kisah pendirian Sriwijaya ini menempatkan posisi peradaban perairan (sungai) sebagai sebuah  corak awal pembangunan peradaban Kerajaan Sriwijaya.[4] Setelah pendirian pemukiman itu, Palembang sebagai pusat awal kerajaan ini, memiliki luas 400.61 Km2.

 

 

 

Berkembangnya peradaban Kerajaan Sriwijaya yang dimulai dengan sebuah usaha Dapunta Hyang untuk mencapai titik penjuru kesembilan, yakni Palembang sebagai daerah Iliran telah pula menciptakan sebuah kemajuan yang tak hanya diakui oleh masyarakat Sriwijaya sendiri. Kemajuan ini dibuktikan dengan berbagai kesaksian yang justru datang dari berbagai berita asing kepada kerajaan yang menjadi prototipe negara nasional pertama di Nusantara itu. I-Tsing salah satunya, ia adalah seorang agamawan Budha yang belajar bahasa Sanskrit / Sansekerta di Sriwijaya. Dari kesaksian I-Tsing kita mendapatkan gambaran tentang kemajuan perdagangan Kerajaan Sriwijaya, karena ia berangkat menuju berlayar dengan kapal-kapal orang Tashih (Arab) dan orang Posse (Persia).[5]. Raja Sriwijaya dikenal dalam sumber-sumber Arab sebagai “Penguasa Gunung” dan “Maharaja Pulau-Pulau”, Zakaharov sembari mengutip pendapat K. Hall menyimpulkan bahwa penguasa kerajaan ini mempunya kontrol yang kuat secara “Magis” (lebih tepatnya ialah kekuatan kharisma) atas wilayah perairan dan sangat bertanggungjawab pada kemakmuran rakyatnya.[6]

 

Peradaban maritim Sriwijaya memberi andil besar dalam kepopuleran kerajaan ini kepada dunia luar. Sungai Musi yang mengaliri wilayah ini adalah akses ke luar-masuk kota Palembang dalam aspek perdagangan dan hubungan internasional menuju dan dari kawasan laut. Hingga kemudian nanti terjadi keruntuhan yang menimpa Sriwijaya akibat serbuan kerajaan Colamandala pada tahun 1025 M, jalur sungai yang berhubungan dengan laut itu masih sedemikian dikenal oleh orang-orang asing, terutama yang berasal dari Tiongkok / Cina. Pasca invasi Colamandala, pusat kerajaan nampaknya berpindah dari Palembang ke kawasan Jambi. Berdasarkan berita Tiongkok dalam  Buku Sejarah Dinasti Song disebutkanlah negeri San-Fo-Tsi / San-Bo-Tsai atau Sriwijaya yang beribukota di Chan-Pi  (diperkirakan “Jambi”), dimana dalam negeri itu terdapat banyak tempat yang berawalan Pu- atau Po- .[7] Tetapi kemudian disebutkan lagi bahwa pada tahun 1079 M Sriwijaya dan Jambi mengirim utusan ke Tiongkok, kemudian pada 1082 M hanya Jambi yang memiliki hubungan resmi dengan Tiongkok.[8]

Meskipun telah berpindah tempat, kota Palembang dan Sungai Musi masih diingat sebagai tempat yang pernah berjaya dalam perdagangan dengan Tiongkok. Para pedagang Tiongkok menyebut akses menuju sungai besar itu, melalui laut, sebagai Kiu-Kang atau Jiu-Jiang yang artinya adalah “Akses / Kanal Tua”. Kiu-Kang / Jiu-Jiang adalah pintu masuk Sungai Musi melalui Muara Sungsang, pemakaian nama ini turut ditemukan dalam Mao Kun (peta pelayaran) milik Ma Huan, seorang pelancong Muslim Tiongkok pada abad ke-15 M yang menyertai Cheng Ho dalam rangkaian ekspedisi Dinasti Ming ke Nusantara dengan salah satu tugasnya ialah menangkap perompak bernama Chen Zuyi – perompak ini bahkan sempat menguasai Palembang sebelum akhirnya ditangkap oleh Cheng Ho. Ma Huan menjelaskan untuk masuk ke ibukota melalui Jiu-Jiang, para pedagang harus merapatkan kapalnya di tepi laut, (lalu) memakai kapal kecil, dengan itu mereka akan mencapai ibukota.[9] Pemberian predikat “Tua” untuk akses (kanal) masuk ke kota Palembang turut melambangkan bahwa pedagang Tiongkok telah sangat familiar dan mengenal baik Palembang sebagai tempat berdagang.

 

Kita bisa melihat sebuah fakta lain tentang integrasi masyarakat Sumatera Selatan kepada peradaban sungai melalui sebuah warisan yang telah ada sejak masa Sriwijaya ; Perahu Kajang. Perahu kajang merupakan alat transportasi tradisional sekaligus menjadi rumah pada masa lampau bagi masyarakat di sekitar Sungai Musi. Diduga, alat transportasi tradisional ini berkembang sekitar masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya (abad VII-XIII Masehi). Jenis perahu ini berasal dari daerah Kayu Agung di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pada masa lalu perahu kajang banyak dijumpai di Sungai Musi Palembang, akan tetapi sekarang sudah tidak dapat dijumpai lagi. Perahu Kajang, menggunakan atap dari nipah yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian depan atap yang disorong (Kajang Tarik), bagian tengah adalah atap yang tetap (Kajang Tetap) dan atap bagian belakang (Tunjang Karang).

 

Bahan dasar yang dipakai untuk membuat Perahu Kajang adalah kayu, yaitu jenis kayu rengas, yang kini sudah tidak ditemukan lagi di wilayah Kayu Agung. Panjang perahu ini sekitar delapan meter dan lebar perahu dua meter. Buritan di bagian depan perahu terdapat tonjolan seperti kepala yang disebut Selungku, merupakan ciri khas perahu kajang Kayu Agung. Keberadaan atap (Kajang) dari daun nipah inilah yang menjadi cikal namanya. Layaknya sebuah rumah tinggal, perahu memiliki ruang tengah tempat anggota keluarga beristirahat. Pada bagian belakang terdapat dapur dan kamar mandi. Barang-barang muatan serta ruang kemudi berada di bagian depan perahu. Tata ruang perahu terdiri dari bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Bagian depan merupakan ruang untuk menyimpan barang-barang komoditi yang dijual, seperti barang tembikar dan untuk kemudi. Bagian tengah adalah ruang keluarga untuk tempat tidur. Bagian belakang adalah kamar mandi dan dapur.[10]

Apakah makna dari pembuatan Perahu Kajang yang memadukan fungsi trasportasi dan tempat tinggal itu ? Makna yang sangat jelas adalah kehidupan maritim yang telah mendarah daging pada masyarakat Sumatera Selatan. Inovasi ini memastikan bahwa kegiatan transportasi sungai bukan hanya dalam jarak dekat, namun dapat pula untuk jarak yang jauh dan dalam waktu yang lama. Teknologi pembuatan perahu memang telah cukup maju sejak zaman Sriwijaya silam. Kini, pada Museum Sriwijaya yang terdapat pada situs kanal kuno Karanganyar dapat disaksikan penemuan fragmen kapal masa itu berupa kemudi kapal dengan panjang sekitar 8 meter. Peradaban sungai telah terbukti menjadi sebuah ordinat dalam aspek kausalitas kemajuan militer-maritim (kelautan) Sriwijaya yang mampu menganeksasi wilayah di sekitar Selat Malaka. Letak Kerajaan Sriwijaya, yaitu Palembang di ujung jazirah pantai timur Sumatera, juga memberi kepastian bahwa masyarakat setempat cenderung aktif menerima kemajuan yang datang (dari luar), dan dengan kemampuan memajukan teknologi kapal merupakan sebentuk tindakan pro-aktif mengakses dunia di luar sekitarnya.[11]

Sumber :

1.      M. Santun, Dedi Irwanto, dkk., Iliran dan Uluan: Dinamika dan Dikotomi Sejarah Kultural Palembang, Publisher, Yogyakarta : Penerbit Eja, 2010.Hlm.3.

2.      Hanafiah, Johan, Hari Jadi Provinsi Sumatera Selatan : Suatu Tinjauan Sejarah, Palembang : Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, 2015.Hlm. 5.

3.      Op.Cit.

4.      Samsudin, Koleksi Arkeologika Museum Balaputra Dewa Palembang, Palembang : Museum Negeri Sumatera Selatan, 2010. Hlm. 49.

5.      Notosusanto, Nugroho, Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia III : Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam, Jakarta :Balai Pustaka, 1993. Hlm. 45.

6.      Zakharov, Anton O., “Constructing the Polity of Srivijaya in the 7th-8th Centuries : The View According to the Inscriptions”. Dalam Indonesian Studies Working Papers No.9 2009 The University of Sydney : 11.

7.      Soan Nio, Oei, Beberapa Catatan Tentang W.P. Groeneveldt : Historical Notes in Indonesia and Malay Compiled from Chinese Sources, Jakarta : Panitia Penyusunan Buku Standard Sejarah Nasional Indonesia, t.t. Hlm. 14.

8.      Budi Utomo, Bambang, Cheng Ho : His Cultural Diplomacy in Palembang, Palembang : Departemen Pendidikan Nasional, 2008.Hlm. 19. 

9.      Mills, J.V.G., Ying-yai Sheng-lan : ‘The Overall Survey of the Ocean’s Shores’,Cambridge : Cambridge University Press, 1970. Hlm. 98-99

10.  www.kebudayaan.kemdikbud.go.id 1 Januari 2019 / 22:00 WIB.

11.  Safitri, Sani, “Telaah Geomorfologis Kerajaan Sriwijaya”, dalam Jurnal Criksetra Vol. 3 Nomor 5 : 25.

Oleh :

Baroqah Meyrinaldy,S.Pd.

(Anggota Studie Club ‘Gerak Gerik Sejarah’)

 

 

Penulis : citizen journalis
Editor : Riki Okta Putra

Tag : musi

Komentar