30 Okt 2026 19:45

BPGMN Laksanakan Uji Adaptasi Bambu dan Jelutung di Lahan Gambut OKI, Ini Tujuannya

BPGMN Laksanakan Uji Adaptasi Bambu dan Jelutung di Lahan Gambut OKI, Ini Tujuannya

Kaganga.com OKI — Upaya memulihkan ekosistem gambut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat terus digencarkan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Salah satu langkah strategis yang kini diuji coba adalah penanaman tanaman jelutung dan bambu menggunakan sistem tumpang sari di kawasan gambut.

Inovasi ini dinilai memiliki potensi ekonomi ganda sekaligus menjadi benteng alami dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Uji adaptasi tanaman bambu dan jelutung tersebut dilaksanakan di lokasi Boon Challenge, Kelurahan Kedaton Kecamatan Kayuagung Kabupaten OKI, Jumat (30/10).

Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan bahwa kawasan tersebut kini menjadi model keberhasilan pemulihan ekosistem gambut secara berkelanjutan. Wilayah yang dulunya kerap dilanda kebakaran kini menunjukkan perubahan signifikan dengan tumbuhnya sekitar 30 spesies pohon baru.

"Ini menjadi pembelajaran menarik bahwa restorasi gambut dapat dilakukan dengan cukup baik. Dalam upaya penanggulangan kebakaran, desa harus menjadi ujung tombak dengan meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan gambut dan mangrove," ujar Satyawan.


Potensi Ekonomi dan Mitigasi Karhutla

Pengelolaan lahan gambut diarahkan tidak hanya untuk pemulihan lingkungan, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi langsung bagi warga sekitar melalui budidaya jelutung dan bambu betung.

Jelutung sendiri adalah tanaman yang sangat adaptif terhadap ekosistem gambut dan menghasilkan getah bernilai ekonomi tinggi. Kendati demikian, butuh kesabaran karena penyadapan baru bisa dilakukan saat diameter batang mencapai sekitar 20 sentimeter.

Sedangkan Bambu Betung, selain menjaga kelembapan lahan, satu rumpun bambu diperkirakan mampu menampung air hingga 500 liter. Sistem perakarannya menjaga kelembapan tanah dan batangnya tetap menyimpan cadangan air meski daunnya mengering, sehingga menjadikannya mitigasi alami yang ampuh melawan karhutla.

Ketua Umum Komunitas Pemuda Ekonomi Hijau Indonesia (KPEHI), Agi Diantoro menambahkan, bahwa pihaknya menyiapkan pendekatan ekonomi kerakyatan. Melalui kerja sama dengan industri mebel binaan, hasil panen bambu akan diolah menjadi produk furnitur dan interior, memberikan nilai tambah serta peluang pendapatan baru bagi masyarakat desa penyangga.

"Sebagai tahap awal, program percontohan ini akan menanam 300 bibit bambu dan jelutung di lahan seluas satu hektare. Jika berhasil, program ini ditargetkan berkembang hingga 100 hektare di seluruh wilayah Sumatera Selatan," ungkapnya.

Selain itu, Agi juga mengucapkan terimakasih dan Apresiasi kepada Wakil BPGMN, Mayjend TNI Sriyanto M.IR, karena kegiatan ini berkat gagasan dan ide dari beliau.

Dukungan Penuh Pemda dan Pemprov Sumsel

Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, menyambut baik inovasi ini. Ia memaparkan bahwa OKI memiliki kawasan gambut yang sangat luas, yakni sekitar 600 ribu hingga 800 ribu hektare, salah satu yang terbesar di Sumsel. Dengan luas tersebut, penataan kanal, pemeliharaan kawasan dan pelibatan masyarakat melalui pendekatan ekonomi produktif menjadi kunci agar OKI tidak lagi identik dengan wilayah rawan kebakaran dan asap.

Senada dengan Bupati OKI, Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, turut memberikan dukungan penuh. Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan kembali kearifan lokal, seperti tradisi peternakan kerbau rawa, untuk menjaga kelembapan ekosistem gambut, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

"Melalui integrasi antara restorasi lingkungan, pengembangan industri pengolahan hasil tanaman dan pemberdayaan masyarakat desa, kawasan gambut di OKI diharapkan bertransformasi menjadi sumber ekonomi baru yang produktif, berkelanjutan serta bebas dari ancaman karhutla," jelasnya.

Penulis : Wahid Aryanto
Editor : Elly

Tag : OKI Lahan gambut di OKI

Komentar