10 Jan 2019 22:30
Siswi SMA Negeri 10 Ditemukan Tewas Mengambang

Keluarga Tak Menyangka Anak Sulungnya Sudah Tak Bernyawa

Keluarga Tak Menyangka Anak Sulungnya Sudah Tak Bernyawa

Kaganga,com, Palembang - Nia, warga Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan (Sumsel) tertunduk sedih di depan pintu Instalasi Forensik Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Palembang. Dia tak menyangka akan melihat anak sulungnya, EN (16), dalam keadaan tak bernyawa.

Tubuh EN yang merupakan siswi di SMA Negeri 10 Palembang, ditemukan mengambang di dekat Dermaga PT Pusri Palembang pada Kamis (10/1/2019) pagi.

Penemuan jenasah gadis yang masih duduk di kelas 10 IIS 4 ini mengakhiri pencarian keluarga yang sudah beberapa hari kehilangan salah satu anggota keluarganya.

Dari informasi yang dihimpun, usai pulang sekolah pada hari Senin (7/1/2019), EN pulang ke kontrakannya di Jalan Srijaya Negara Lorong Hasan AS, Kecamatan Ilir Barat 1 Palembang.

Namun di sore hari, EN yang masih menggunakan seragam sekolah dan jilbab, langsung keluar rumah dan tidak pernah kembali lagi. Diduga EN nekat terjun dari Jembatan Ampera ke Sungai Musi untuk mengakhiri hidupnya.

Menurut Mauladi (55), pemilik kontrakan, EN sempat meminta tolong salah satu tetangga untuk mengantarkannya ke depan lorong. Korban lalu memesan ojek online dan minta diantarkan ke Jembatan Ampera pada Senin sore.

“Keluar dari kontrakan sekitar pukul 17.00 WIB, dia minta diantar ke Jembatan Ampera. Masih pakai seragam sekolah dan kerudung,” ujarnya kepada Kaganga.com.

Mauladi tidak mengetahui apa yang menyebabkan EN mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Musi. Padahal setiap hari, EN beraktifitas seperti biasanya dan tidak menunjukkan gelagat aneh.

EN baru sekitar enam bulan menempati kamar kontrakannya. Keluarga korban merupakan kerabat dekat Mauladi, sehingga EN dititipkan ke rumahnya.

Usai mengetahui EN tidak pulang ke rumah, Mauladi diberitahu oleh tetangganya bahwa EN sempat menitipkan beberapa surat.

“Ada beberapa lembar surat yang ditulis tangan EN untuk keluarganya. Dia menitipkan ke tetangga saya agar diberikan ke orangtua EN,” katanya.

Pada Senin malam, Mauladi langsung mengambil surat tersebut. Dia sempat membaca isi surat itu. Namun karena isi surat tersebut menggunakan bahasa daerah, Mauladi tidak terlalu mengerti apa maksud di pesan EN tersebut.

“Suratnya pakai bahasa Komering, saya tidak paham. Yang saya tahu di pesan itu ditulisnya ‘aku tidak betah lagi’. Itu saya yang saya tahu,” ungkapnya.

Erika, guru EN di SMA Negeri 10 Palembang mengungkapkan dalam kesehariannya di sekolah, EN belajar dan berinteraksi normal seperti pelajar lainnya.

“Masuk sekolah pagi dan pulang siang. Tidak ada keganjalan apapun, apalagi di hari terakhir. Kami satu sekolah juga kaget jadinya seperti ini,” katanya.

Usai melihat jenasah EN di dalam ruang Instalasi Forensik, Erika langsung keluar dengan tangisan yang tak terbendung.

Firdaus, paman korban mengungkapkan, orangtua EN baru datang ke Palembang pada Rabu malam untuk mencaritahu keberadaan anaknya.

“Baru saja datang malam, pagi ini sudah dikabarin ditemukan jenasahnya. Rencananya jenasah EN akan dibawa ke Desa Muara Dua OKU Selatan dan dimakamkan di sana,” ungkapnya.

Penulis : Nandoenk
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Jenazah Bunuh Diri

Komentar