8 Feb 2019 13:55

Divonis Mati, Wajah Komplotan Letto Tanpa Ekspresi

Divonis Mati, Wajah Komplotan Letto Tanpa Ekspresi

Kaganga.com, Palembang - Majelis hakim Pengadilan Negeri Klas 1 Palembang, menjatuhkan vonis mati terhadap sembilan orang yang merupakan komplotan bandar narkoba asal Surabaya, Kamis (7/2/2019).

Bandar narkoba lintas provinsi asal Surabaya Jawa Timur yakni, Letto (25) hanya bisa tertunduk dan wajahnya terlihat tanpa ekspresi saat mendengar pembacaan vonis majelis hakim yang menjatuhkannya hukuman mati terhadapnya.

Majelis hakim menyatakan, bila kesembilan terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan terbukti bersalah. Selain itu, majelis hakim menyatakan tidak ada halnynag dapat meringankan hukuman yang dijatuhkan terhadap kesembilan terdakwa.

"Banding," kata Letto ketika menjawab pertanyaan majelis hakim terkait vonis yang dijatuhkan.

Sidang pertama dipimpin  hakim ketua Efrata Tarigan dan dua hakim anggota Akhmad Suhel serta Yunus Sesa, diputuskan bahwa terdakwa dijerat pasal Pasal 114 ayat 2 juncto 132 ayat 1 Undang-undang no 35 tahun 2009 tentang narkotika.

"Bahwa dalam pemeriksaan terdakwa terbukti bersalah maka terdakwa pantas untuk dijatuhi hukuman mati," tegas hakim dengan suara lantang dan langsung mengetok palu.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim, lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut terdakwa dengan hukuman penjara seumur hidup.

Tak hanya Letto yang dijatuhkan hukuman mati, akan tetapi delapan terdakwa lainnya yang juga satu jaringan dengan Letto yakni Candra (23), Trinil (21), Andik (24), Hasan (38), Ony (23), Sabda (33), Putra (23) dan Prandika (22) yang semuanya warga Jawa Timur juga dijatuhi hukuman mati.

Dari majelis hakim di muka persidangan terungkap,  bila  menyelundupkan narkoba dari Palembang menuju Surabaya melalui Lampung lewat jalur darat.  Selanjutnya, dari Lampung perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mobil fuso yang sengaja dibeli terdakwa Letto. Modus yang mereka gunakan dengan menumpang truk fuso untuk membawa sabu yang ditutupi singkong dengan tujuan Surabaya.

"Tapi dalam perjalanan ada beberapa barang yang sudah diecerkan," ungkap majelis dimuka persidangan.

Majelis hakim mengatakan,  komplotan Letto CS terbukti mengedarkan sabu seberat 80 kg  terhitung sejak tanggal 12 Maret hingga April 2018. Terungkapnya jaringan Letto CS ini, setelah Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel menangkap tiga kaki tangan Letto di Palembang.

Mereka ditangkap setelah barang bukti sabu seberat 3,5 kg yang sempat ditinggalkan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin  II Palembang. Dari situ,  dilakukan pengembangan hingga akhirnya Letto beserta lima orang lainnya ditangkap di salah satu hotel di Surabaya beserta barang bukti 5.8 kg. Selain 5.8 kg sabu, Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel juga mengamankan barang bukti 4.950 butir pil ekstasi.

Para terpidana dijerat Pasal 114 ayat 2 junto 132 ayat 1 Undang-undang no 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Sedangkan kuasa hukum kesembilan terdakwa  Letto CS, Rustini SH dan Arif Rahman SH mengatakan tidak menyangka bila seluruh kliennya mendapat vonis hukuman mati. Karena, dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang menuntut seluruh terdakwa,  dituntut penjara seumur hidup.

"Vonis majelis hakim sangat jauh diluar ekspektasi kami, mungkin majelis hakim memiliki pertimbangan lain dan diputuskan bahwa seluruh klien kami divonis mati,"ungkapnya saat ditulis Kaganga.com, Jumat (8/2/2019).

Para terdakwa sebelumnya telah mengajukan penolakan terhadap tuntutan jaksa. Begitu pula dengan  pihak kuasa hukum telah mengajukan permohonan peringanan hukuman karena para terdakwa mnegaku bila mereka  korban dari sindikat pengedaran narkotika.

"Namun semuanya ditolak dan klien kami mendapat vonis hukuman mati dari hakim,"ungkapnya.

Kesembilan terdakwa,  masih mengajukan banding dan pikir-pikir atas vonis yang dijatuhkan majelis hakim.

Sedangkan Jaksa Penuntut Umum Satria Irawan mengapresiasi putusan hakim pengadilan Negeri Palembang yang menjatuhkan hukuman mati terhadap Letto Cs.
Letto Cs merupakan jaringan nasional yang beroprasi memasok narkoba di lima kota berbeda mulai dari Surabaya, Banjarmasin, Lampung, Jakarta dan Palembang.

"Atas putusan ini kami mengapresiasi, bangga dan Salut. Kami sangat puas. Kami yakin akan ada efeknya untuk peredaran narkoba di Sumsel ini," ungkapnya.

Ia menyampaikan akan melihat kasus demi kasus narkoba yang ada di Sumsel dan akan memaksimalkan hukuman terhadap para pelaku peredaran narkoba.  Satria menyebut, kesembilan orang itu memiliki peran besar dalam jaringan ini, sehingga memang pantas untuk mendapatkan hukuman maximal.

Penulis : Nandoenk
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Narkoba Vonis Mati

Komentar