15 Sep 2020 19:55

Pelaku Penganiayaan Ketua Pengurus Masjid di Tanjung Rancing Tidak Dalam Gangguan Kejiwaan

Pelaku Penganiayaan Ketua Pengurus Masjid di Tanjung Rancing Tidak Dalam Gangguan Kejiwaan

Kaganga.com, OKI – Kepolisian Resor (Polres) Ogan Komering Ilir (OKI), gelar konferensi pers menanggapi isu yang berkembang di masyarakat atas aksi penganiayaan terhadap Muhammad Arif, Ketua Pengurus Masjid Nurul Imam Kelurahan Tanjung Rancing di Mapolres OKI, Selasa (15/09/2020).

Kapolres OKI, AKBP Alamsyah Pelupessy, menjelaskan, bahwa saat kejadian Jumat (11/09) sore lalu, ketika melaksanakan solat maghrib di Masjid Nurul Iman korban sebagai makmum dan bukan sedang memimpin solat. Lanjutnya, sebelum kejadian, korban dan pelaku sempat datang bersama ke masjid. Hanya saja, ketika mulai solat pelaku keluar dari masjid.

Masih kata Kapolres OKI, Saat takbiratul ihram, pelaku pergi sambil membawa sajadah. Dan, saat kembali ke masjid pelaku membawa parang dan langsung menganiaya korban.

"Jika isu yang berkembang terkait aksi penganiayaan terhadap Imam Masjid di Kelurahan Tanjung Rancing, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten OKI tersebut tidak benar. Korban adalah Ketua pengurus masjid dan pada saat kejadian korban posisinya sebagai Makmum,"jelasnya

Kapolres juga mengatakan,berdasarkan dari hasil informasi yang didapat bahwa korban dan pelaku sama-sama pengurus masjid, tinggal satu komplek. Bahkan, sehari sebelum kejadian pelaku dan korban ke kebun bersama.

Menurutnya, pelaku tega menganiaya korban karena tersinggung, korban mengatakan kalau kunci kotak amal yang dipegang pelaku agar diserahkan ke bendahara masjid.

"Jadi itulah alasan pelaku melakukan penganiayaan tersebut. Kalau ada yang mengatakan kondisi pelaku terganggu kejiwaannya, itu juga tidak benar, karena berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap pelaku tidak dalam keadaan terganggu kejiwaannya. pelaku dalam keadaan sehat,"tegasnya.

Tambahnya, jika sebelumnya pelaku hanya dikenakan pasal 351 ayat 2. Karena aksinya menyebabkan korban meninggal dunia, selanjutnya pelaku dikenakan pasal 255 ayat 2 dan 340 ayat 1 dengan ancaman hukuman seumur hidup.

Wakil Ketua MUI Kabupaten OKI, Suparjon Alihaq Al-Tsabit, mengatakan, mendengar apa yang telah disampaikan Kapolres OKI tadi dan dari pengakuan berbagai saksi kasus ini tidak ada keterkaitan dengan radikalisme dan lainnya, ini murni ketersinggungan pelaku terhadap ucapan korban.

“Jadi ini tidak ada kaitannya dengan suatu paham atau ideologi, ini murni karena sakit hati. Ini tak ada kaitannya dengan radikal. Hanya saja momennya hampir bersamaan dengan aksi penusukan terhadap Syekh Ali Jaber sehingga banyak yang mengaitkan masalah ini,” tegasnya.

Sementara Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten OKI, mengimbau kepada seluruh pengurus masjid agar melaksanakan tugas sesuai dengan tupoksinya. Sehingga, hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi.

“Dari informasi yang kami dapat kalau pelaku ini tukang bersih-bersih masjid, tapi memegang kunci kotak amal. Akhirnya, ketika hendak diambil dia marah hingga menghilangkan nyawa seseorang,"ujarnya.

Penulis : Wahid Aryanto
Editor : Riki Okta Putra

Tag : OKI Penagiayaan Imam Mesjid

Komentar