9 Mei 2017 20:40 | 70

Kemenperin Dorong Produksi Plastik Urai Naik 5%

Kemenperin Dorong Produksi Plastik Urai Naik 5%

Kaganga.com - Kementerian Perindustrian menargetkan sekaligus mendorong produksi plastik urai alami meningkat lima persen dari jumlah kapasitas nasional saat ini sebesar 200 ribu ton per tahun.

Berbeda dengan plastik konvensional, produksi plastik urai alami atau biodegradable plastic tidak memakai polyethylene ataupun polypropylene, namun menggunakan bahan dasar nabati, antara lain singkong, sehingga ramah lingkungan.

“Konsumsi plastik di Indonesia mencapai lima juta ton per tahun, dan baru 50 persen yang bisa dipenuhi dari industri dalam negeri. Kami mendukung pabrik ini agar terus ekspansi dan mengembangkan teknologinya. Bahkan, potensi investasinya masih cukup besar,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat mengunjungi PT Inter Aneka Lestari Kimia dan PT Harapan Interaksi Swadaya di Tangerang, Banten, Senin, seperti dalam siaran pers Kemenperin.

Airlangga mengatakan industri makanan dan minuman menjadi salah satu yang banyak menyerap produksi plastik untuk pengemasan produknya. Ini karena sifat plastik yang lebih ringan, fleksibel, dan murah dibandingkan dari material kaca dan logam.

“Kalau bisa, dalam waktu dua tahun ini, produknya 10 kali lipat makin banyak. Jadi, tidak hanya menggantikan untuk shopping bag tetapi juga packaging secara keseluruhan, dan tidak hanya di pasar modern tetapi juga tradisional,” papar Airlangga.

Pemerintah menyadari sulitnya menghapus penggunaan produk plastik secara keseluruhan. Ketimbang itu, pemakaian ulang plastik (reuse), pengurangan pemakaian plastik (reduce), daur ulang sampah plastik (recycle), serta pengembalian ke alam (return) melalui penguraian alami (biodegradable) menjadi hal yang paling memungkinkan.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, pemerintah akan mengeluarkan kebijakan supaya penggunaan non-plastik ini bisa dipergunakan lebih luas.

“Karena ini berkaitan dengan masalah lingkungan. Sebagian besar sumber sampah plastik itu berasal dari botol PET, kemasan flexible, dan kantong belanja plastik. Hingga akhir tahun 2016 lalu, Indonesia tercatat sebagai kontributor sampah plastik di laut urutan kedua terbesar di dunia,” kata dia.

Indonesia, sambung dia sedang bekerja keras memerangi sampah plastik. Dia pun memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk ramah lingkungan serta meningkatkan penggunaan konten lokal.

Penulis : Roy JM
Editor : Roy JM

Tag : Kemenperin

Komentar