6 Mei 2020 13:15

Maharani Ardy Tetap Jalani Latihan Meski di Rumah

Maharani Ardy Tetap Jalani Latihan Meski di Rumah

Kaganga.com, Palembang - Menyusul semakin meluasnya wabah Virus Corona (Covid-19) di Indonesia, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) 'merumahkan' atlet Sumsel yang lolos ke Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua, untuk kemudian menjalani latihan secara mandiri. 

Meski sudah dirumahkan, para atlet tetap menjalani latihan fisik dan teknik, guna menjaga stamina dan daya tahan fisik.

Sehingga saat dipanggil kembali mengikuti PON XX yang dijadwalkan akan digelar pada Oktober 2021, atlet tetap dalam kondisi bugar.  Latihan mandiri juga dilakukan petembak Sumsel yang tergabung dalam Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin) Sumsel.

Tercatat, ada 14 petembak Sumsel termasuk pelatih yang berhak tampil di PON Papua, salah satunya adalah Maharani Ardy. 

"Iya, kami latihan di rumah secara mandiri, yakni latihan kering (membentuk titik fokusnya membidik sasaran tembak-red), 10 meter Air Rifle," katanya 

Saat latihan di rumah, Reni, sapaannya mencerirakam mereka memakai perlengkapan yang biasa dipakai saat latihan, hanya saja tidak memakai peluru. 

"Latihan biasa tidak pakai peluru, kan latihan di rumah. Kami juga melakukan latihan fisik yang dipandu oleh pelatih. Jadi semua latihan, baik fisik dan teknik, pelatih yang pandu melalui video call," ungkapnya  

Disinggung mengenai PON Papua, Reni menegaskan, dia akan ikut ambil bagian pada pesta olahraga terbesar di Tanah Air tersebut. Apalagi, di cabang olahraga (cabor) menembak tidak ada batasan usia atlet. 

"Sejauh ini belum ada batasan usia di cabor menembak, hanya dibedakan kelas usia saja, ada yang senior dan junior. Reni sendiri turun di Event 50 meter 3 Position Women 10 meter Air Rifle Women," bebernya  

Ditambahkan karyawan Bank Sumsel Babel itu, banyak petembak Sumsel yang masuk dalam ranking Pengurus Besar (PB) PON, namun tidak semuanya bisa tampil di ajang PON. 

"Kalau dari Sumsel ada 14 termasuk pelatih. Memang ada banyak yang masuk kuota ranking dari PB PON, dan semua yang lolos Maksimum Qualifikasi Standar (MQS) belum tentu bisa ikut PON," terangnya. 

Namun ketika disinggung mengenai dampak Covid-19, hingga menunda satu tahun pelaksanaan PON Papua, Reni enggan berbicara tentang untung dan rugi. 

"Saya tidak bicara masalah untung rugi, karena ini musibah dunia bukan hanya Indonesia, banyak event dunia yang ditunda. Dan untuk penundaan PON yang merasakannya seluruh Indonesia, dan tidak hanya Sumatera Selatan," pungkasnya.

Penulis : Ines Alkourni
Editor : Achmad Fadhil

Tag : PON PAPUA

Komentar