10 Okt 2018 21:55

Sengketa Lahan di Banyuasin Belum Ada Titik Temu

Sengketa Lahan di Banyuasin Belum Ada Titik Temu

Kaganga.com, Palembang - Tumpang tindih lahan dimana seorang warga menjual lahan Desa Sebubus, Teluk Tenggiri dan Upang masuk wilayah Kecamatan Markarti Jaya, Banyuasin kepada PT Agrindo Raya namun juga menjual lahan ke PT Andira Agro semakin ruwet, rapat mediasi yang difasilitasi DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Selasa (9/10) sore belum menemukan titik temu.

Anggota Komisi II DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Eddy Riyanto dalan rapat mediasi sempat kesal lantaran dalam laporan Ketua Kelompok Bina Tani Juanda kalau lahan ulayat Desa Upang, Banyuasin di serobot kelompok tertentu , dimana menurutnya jika bicara tanah ulayat tidak bisa dimiliki satu orang.
Menurutnya, tanah ulayat boleh dimiliki pribadi ketika menjadi tanah negara.

" Hari ini kami minta bawa surat surat lahan tersebut hari ini tidak bicara nanti nanti , kemarin diterima di komisi saya minta bawa surat, BPN juga harus menguasai bukan berdasarkan surat surat yang diberikan masyarakat, harus menguasai posisi lahan disitu seperti apa posisi lahan disitu, " katanya.

Dia minta lahan di ceritakan dengan kongkrit seperti apa lahan itu dikuasai.

Ketua Komisi II DPRD Sumsel Ahmad Bastari melihat kasus ini sudah lama namun tidak pernah tuntas diselesaikab pihak terkait di Banyuasin padahal kasus ini sudah mengambang sudah bertahun tahun.
"Kalau ke pengadilan mereka kalah karena itu kita sini untuk mencari solusi untuk mereka mencari keadilan kalau cerita hukum mereka tidak kenal, " katanya.
Menurutnya jika berdebat tidak tuntas masalahnya harusnya harus ada solusinya.
Ketua Kelompok Bina Tani Juanda mengatakan, tidak jual lahan keperusahaan dan pihak perusahaan selalu membawa preman saat pihaknya mengelola lahan.
" Mereka mengaku beli dengan konpantren tidak mau kasih tahu, kasih tahu koordinat tidak tahu sudah enam tahun kami terbengkalai, bagaimana kami hidup tenang, " katanya sembari mengatakan luas lahan mereka sekitar 290 ha dengan anggota kelompon bina tani sekitar 77 warga.
Menurutnya, sengketa lahan mulai 2008 hingga kini belum ada penyelesaian.
Kepala Desa Upang, Zawawi mengatakan, kasus ini sudah digelar mediasi di mariana dihadiri Kapolres, Pemkab Banyuasin lahan yang diklaim Ketua Kelompok Bina Tani Juanda 290 ha terdapat 3 desa yaitu Desa Sebubus, Teluk Tenggiri dan Upang masuk wilayah Kecamatan Markarti Jaya, Banyuasin.
Sedangkan lahan yang ada di desa upang sekitar 20, 1 ha berdasarkan titik koordinat oleh Pemkab Banyuasin. Juanda disuruh tunjukkan alas hak atas lahannya tapi sampai sekarang tidak bisa membuktikan alas hak. Pihaknya sudah melakukan banyak upaya dan selalu dipanggil untuk menyelesaikan masalah ini.
" Kalau mereka memiliki kepemilikan yang sah secara hukum kita bela tapi ini tidak ada bukannya kita tidak mau membela masyarakat, " katanya.
Pihak PT Agrindo Raya yang hadir dalam pertemuan itu membantah mengerahkan preman untuk mengintimasi Ketua Kelompok Bina Tani Juanda dan rekannya.
" Semua ganti rugi melibatkan kades, camat dan izin prinsip yang kita ajukan ke pihak yang berwenang terakomodir berdasarkan SPH yang dioverkan ke pihak Agrindo.
"Kalau kami di katakan menyerobot justru terbalik yang ada itu kebun yang di garap Agrindo di rusak oleh saudara Juanda, sudah kita lapor ke Polres Banyuasin dan di proses dan dia tidak bisa menunjukkan alas hak," katanya.
Menurutnya Kelompok Bina Tani dipimpun Juanda sudah diberikan tali kasih oleh PT Agrindo tapi Juanda belum terima

Penulis : Achmad Fadhil
Editor : Riki Okta Putra

Tag : sengketa lahan banyuasin

Komentar