3 Nov 2025 21:45

Harga Pangan Mulai Stabil, Sumsel Catat Deflasi 0,13 Persen pada Oktober 2025

Harga Pangan Mulai Stabil, Sumsel Catat Deflasi 0,13 Persen pada Oktober 2025

Kaganga.com PALEMBANG — Tekanan harga kebutuhan pokok di Sumatera Selatan mulai mereda. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Provinsi Sumsel mengalami deflasi sebesar 0,13 persen pada Oktober 2025. Angka ini menjadi sinyal positif bahwa pengendalian harga di daerah berjalan efektif menjelang akhir tahun.

Kepala BPS Sumsel, Moch Wahyu Yulianto, mengatakan tren penurunan harga terjadi di sejumlah komoditas pangan utama, terutama cabai merah dan beras. Menurutnya, deflasi ini menunjukkan hasil nyata dari koordinasi antara Pemerintah Provinsi Sumsel, Bank Indonesia, serta instansi terkait dalam menjaga kestabilan harga.

“Bulan Oktober ini kita alami deflasi 0,13 persen. Artinya, tekanan harga berkurang dan situasi masih sangat terkendali,” ujar Wahyu saat ditemui di kantornya, Senin (3/11/2025).

Ia menjelaskan, secara kumulatif atau year to date (Januari–Oktober 2025), inflasi Sumsel tercatat 2,38 persen. Angka ini masih berada dalam target nasional yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia, yaitu 2,5 persen dengan toleransi ±1 persen.

“Capaian ini membuktikan bahwa pengendalian inflasi di Sumsel tetap efektif. Koordinasi antarinstansi berjalan baik, sehingga kenaikan harga bisa ditekan,” jelasnya.

Wahyu menambahkan, komoditas cabai merah menjadi salah satu faktor utama penekan inflasi. Setelah sempat melonjak hingga Rp80 ribu per kilogram, kini harga cabai turun signifikan ke kisaran Rp35–40 ribu per kilogram di sejumlah pasar.

Selain cabai, harga beras juga relatif stabil berkat intervensi pemerintah melalui berbagai program stabilisasi pasokan dan operasi pasar. “Meski harga emas sempat naik karena pengaruh global, namun bahan pangan kita cukup stabil,” katanya.

Namun demikian, Wahyu mengingatkan bahwa tekanan harga masih berpotensi muncul pada November–Desember 2025, terutama akibat meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Selain itu, program Sekolah Penuhi Pangan Bergizi (SPPG) juga meningkatkan kebutuhan terhadap beberapa komoditas tertentu.

“Permintaan wortel meningkat karena banyak digunakan dalam program makan bergizi di sekolah. Akibatnya, pasokan di pasar sempat berkurang dan menimbulkan sedikit tekanan harga,” ungkapnya.

Pemerintah, kata Wahyu, akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor agar distribusi barang dan pasokan kebutuhan pokok tetap terjaga. “Dengan kolaborasi antara Pemprov, kabupaten/kota, dan Bank Indonesia, kita optimistis inflasi hingga akhir tahun masih bisa dikendalikan sesuai target,” tutupnya.

Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly

Tag : BPS Provinsi Sumsel Pemprov Sumsel

Komentar