20 Des 2019 18:30

"Nenek" Tidak Pernah Cari Makan di Luar Rumah

Kaganga.com, Palembang - Harimau Sumatera atau biasa dipanggil masyarakat sekitar Gunung Dempo "Nenek Gunung" beraktifitas selaku di dalam habitatnya, baik itu mencari buruan ataupun sekedar jalan-jalan. Hal inilah inti dari pertemuan para tokoh pemerintah yang berlanggsung di Rumah Rumah Dinas Walikota Pagaralam, Kamis malam (19/12).

Berbagai instansi terkait memberikan informasi terkait adanya konflik yang terjadi antara manusia dan harimau sumatera di beberapa lokasi di Provinsi Sumatera Selatan, khususnya diwilayah Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat.

Ketua Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan mengatakan, saat ini ada 3 jenis Harimau diindonesia, pertama harimau bali yang sudah punah, harimau jawa juga sudah punah, dan harimau Sumatera yang terancam hampir punah.

Menurutnya, pihaknya melalui BKSDA Wilayah II Lahat telah melakukan upaya mengatasi isu harimau sumatera seperti berkoordinasi kepada para pihak, Sosialisasi keberadaan satwa liar dilindungi kepada masyarakat, mengunjungi rumah duka, pemasangan box trap di lokasi korban di serang, pemasangan himbauan di beberapa titik desa.

"Kami telah melakukan pemasangan 5 kamera disepanjang rute terlihatnya harimau, dan untuk pemantauan keberadaan harimau," katanya.

Dalam paparannya, BKSDA menjelaskan mengenai kondisi habitat harimau sumatera yang telah terdegradasi. Baik itu karena alih fungsi hutan ataupun adanya perambahan liar dan perburuan hewan yang selama ini menjadi mangsa sang nenek gunung. Serta prilaku nenek gunung dalam beraktifitas dan berburu mangsa.

Gubernur Sumsel, Herman Derru mengatakan, pihaknya telah mendapatkan klarifikasi dari dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengenai prilaku dan pola harimau dalam berburu mangsa.

"Macan (harimau sumatera) tidak pernah keluar rumahnya (habitat)," tegasnya.

Menurutnya, terjadinya konflik antara manusia dengan harimau sumatera karena adanya sebab akibat. Mulai dari habitat semakin sempit dan mulai sulitnya harimau mendapatkan hewan buruan.

Disamping itu, menurut gubernur, harimau mempunyai ingatan yang tajam yang dapat menjadi pemantik terjadinya konflik dengan manusia.

"Setiap kejadian konflik antara manusia dan harimau ada pemantik, baik realtime atau sebelumnya karena memorinya," imbuhnya.

Sedangkan, Kapolda Sumsel Irjen Pol Priyo Widyanto menjelaskan, terjadinya konflik antara manusia dan harimau sumatera murni karena adanya kesalahan dari manusia, yang telah mengusik habitatnya.

"Harus diakui memang itu rumah harimau, habitatnya terganggu memberi perlawanan. Kami sebagai aparat, hanya bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat, mengenai hutan lindung yang merupakan habitat harimau, sehingga tidak terjadi lagi konflik, dan tidak ada rasa takut berlebihan. Karena rasa takut berlebihan ini, sehinga masyarakat tidak beraktifitas lagi," ujarnya.

Kapolda menambahkan, harimau sumatera salah satu hewan langka yang keberadaannya sudah hampir punah. Sehingga, keberadaan harimau sumatera dilindungi oleh undang-undang, dan dilarang untuk dilakukan perburuan ataupun membunuh.

"Harimau ini tidak boleh dibunuh atau ditembak. Kami berupaya menyelamatkan nyawa hariamu dan jiwa manusia. Kalau manuasia membunuh harimau ada pasalnya, tapi kalau harimau membunuh manusia tidak ada pasalnya. Kita harus benar-benar mengembalikan kepercayaan masyarakat yang akan beraktifitas di sekitar hutan lindung," tegasnya.

Menanggapi kebanyakan korban konflik antara manusia dengan harimau sumatera merupakan warga pendatang menanam dikawasan yang oleh masyarakat sekitar sendiri dianggap kawasan terlarang. Walikota Pagaralam, Alpian Maskoni pihaknya akan bekerjasama dengan aparat terkait dengan melibatkan masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga lingkungan.

"Kami akan bentuk seperti di masayarakat Tebat Benawa, ada hutan adat, yang sama-sama menjaga itu," imbuhnya.

Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Harimau Sumatera Pagaralam HD

Komentar