21 Nov 2020 18:05

Nilai Impor Non Migas Di Sumsel Mengalami Penurunan

Nilai Impor Non Migas Di Sumsel Mengalami Penurunan

Kaganga.com,Palembang - Adanya pengaruh dari nilai impor keseluruhan yang menurun pada September 22020, Nilai impor non migas di Sumatra Selatan (Sumsel) mengalami penurunan hingga 29,37 persen. Kali ini nilai penurunan sebesar 64,24 juta dolar AS pada Oktober jika dibandingkan September 2020.

"Bulan sembilan kemarin nilai impor Sumsel sempat tercatat 90,05 juta dolar AS. Tapi pada Oktober turun 28,66 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Endang Tri Wahyuningsih.

Dengan terjadinya penurunan angka impor di Sumsel, menunjukkan capaian yang baik karena memperbaiki neraca perdagangan Sumsel. Mengingat nilai ekspor meningkat pada bulan Oktober sebesar 15,96 persen.

"Kalau impor yang menurun ada tiga kelompok, yakni konsumsi makanan dan minuman serta hasil minyak turun 45,99 persen, bahan baku pupuk dan suku cadang mesin turun 3,28 persen serta kelompok barang modal yang menurun 37,78 persen," ungkapnya.

Sedangkan sektor impor yang meningkat meliputi impor pupuk dari Vietnam yang meningkat 3,03 persen, impor bahan kimia anorganik dari China yang meningkat 0,99 persen dan impor lokomotif dan peralatan kereta api dari China yang meningkat 0,53 persen.

Kemudian untuk kontribusi impor terbesar pada Oktober 2020 didominasi oleh dua sektor yakni mesin-mesin pesawat dengan nilai 41,55 juta dolar AS (64,70 persen), disusul pupuk senilai 7,83 juta dolar AS (12,19 persen).

"Pupuk hingga kini masih impor dari Belarusia, dan share-nya cukup besar. Ini jadi pekerjaan rumah bersama bagaimana untuk menguranginya,"terangnya.

Lebih lanjut, perhitungan secara year to year atau dibandingkan dengan Oktober 2019, nilai impor Sumsel justru mengalami kenaikan 53,54 persen, dengan rincian impor migas mengalami penurunan 27,52 persen dan impor nonmigas meningkat 59,75 persen.

Sementara secara year to year, impor barang modal mengalami lonjakan signifikan hingga 299,80 persen, sementara dua sektor lainnya mengalami penurunan yakni konsumsi 54,91 persen dan bahan baku/penolong 25,72 persen.

"Impor barang modal tumbuh 299,80 persen masih terbilang baik, karena yang diimpor adalah barang modal. Justru ini bagus, artinya ada aktivitas investasi di Sumsel," lanjutnya.

Dalam struktur impor Sumsel dari periode Januari-Oktober 2020 terdata bahwa peran golongan barang modal ini mencapai 55,91 persen, atau menjadi yang tertinggi jika dibandingkan bahan baku/penolong yang berkontribusi sebesar 43,22 persen dan konsumsi sebesar 0,87 persen.

"Namun secara year to year, Sumsel masih surplus neraca perdagangan,"

Berdasarkan data, ada tiga negara utama yang menjadi pengimpor barang ke Sumsel periode Januari - Oktober 2020. Yakni China dengan nilai impor sebesar 388,50 juta dolar AS, Malaysia mengimpor 36,84 juta dolar AS dan Vietnam mengimpor 17,78 juta dolar AS.

"Untuk nilai ekspor Sumsel meningkat 15,96 persen periode Oktober 2020 jika dibandingkan bulan sebelumnya senilai 332,57 juta dolar AS," pungkasnya.

Penulis : Ines Alkourni
Editor : Riki Okta Putra

Tag : pemkot palembang

Komentar