30 Sep 2019 19:55

Ratusan Mahasiswa Muhammadiyah Datangi Polda Sumsel

Ratusan Mahasiswa Muhammadiyah Datangi Polda Sumsel

Kaganga.com, Palembang - Terkait tewasnya dua mahasiswa dari Universitas Halu Oleo di Kendari, Sulawesi Tenggara, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Muhammadiyah (AMM)  Bersatu mendatangi Mapolda Sumsel sebagai bentuk solidaritas mereka atas kejadian tersebut, Senin (30/9/2019).


Dalam aksi demonstrasi, AMM mendesak agar Polri bergerak cepat mengusut tuntas kematian dua mahasiswa Univeristas Halu Oleo di Kendari, Sulawesi Tenggara.


Diketahui, kedua mahasiswa yang menjadi korban saat unjuk rasa beberapa waktu lalu tersebut yakni Muhammad Yusuf Kardawi (19) mahasiswa Fakultas Teknik UHO dan Randi (21) yang merupakan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

 
Selain menyerukan tuntutan, dalam aksi damai kali ini mahasiswa juga menggelar sholat gaib dan aksi teatrikal seorang mahasiswa memakai kain putih.


Dari pihak kepolisian Sumsel, Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi bersama Kapolresta Palembang Kombes Pol Didi Hayamansyah menemui mahasiswa, ratusan pendemo membubarkan diri dengan tertib.

 
Kordinator Aksi Aliansi Mahasiswa Muhammadiyah Bersatu Muhammad Iqbal mengecam tragedi penembakan tersebut. Ia menilai, aparat kepolisian yang bertanggung jawab terhadap pengamanan aksi demonstrasi tersebut telah lalai hingga menimbulkan korban jiwa tersebut.

 
“Kami turut berbelasungkawa hari ini, dengan adanya kader terbaik Muhammadiyah yang gugur dalam aksi pekan lalu sehingga kami berduka. Hari ini kami datang terkait solidaritas kemanusiaan,” ujar Iqbal saat melakukan orasi di depan gedung Polda Sumsel.

 
Iqbal menjelaskan, kedatangan mahasiswa UMP ke Polda Sumsel untuk menemui petinggi Polda Sumsel guna menyampaikan aspirasi terhadap keprihatinan mereka dengan aksi kekerasan yang terus-terusan dilakukan oknum aparat kepolisian di Indonesia.

 
Dia menyebut, aksi mahasiswa tidak lain karena kondisi negara sedang tidak baik dan berniat memperjuangkan demokrasi. Maka dari itu, lanjut Iqbal, gugurnya mahasiswa menandakan polisi tidak sesuai prosedur, artinya ada kelalaian yang dilakukan.

 
“Tuntutan kami hari ini, pertama tuntut dan investigasi aksi kekerasan aparat kepolisian di aksi 24 September di Palembang. Kedua, tuntut aksi tewasnya mahasiswa di Sulawesi Tenggara,” katanya.

 
“Selanjutnya, copot Kapolda Sulawesi Tenggara dan jajaran. Dan mendesak Kapolri menahan anggota dan memastikan tidak ada lagi tindakan represif aparat terhadap mahasiswa,” tandasnya.

 
Iqbal menambahkan, kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian di Indonesia harus diusut tuntas. Menurutnya, masa aksi berjanji akan turun dengan massa lebih banyak jika, tidak ada keseriusan dari Polri dalam menyelesaikan kasus kekerasan.

 

“Kami ingin Kapolri memastikan tidak ada lagi tindakan agresif. Ketika tuntutan kami tidak dipenuhi, kami mahasiswa Muhammadiyah akan turun untuk menegakkan keadilan di Indonesia,” tuturnya.

Penulis : Nandoenk
Editor : Riki Okta Putra

Tag : Mahasiswa UMP

Komentar