21 Okt 2025 17:25

Zona Merah Karhutla Meluas, Tujuh Kabupaten di Sumsel Dalam Ancaman

Zona Merah Karhutla Meluas, Tujuh Kabupaten di Sumsel Dalam Ancaman

Kaganga.com Palembang – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) kian mengkhawatirkan. Hingga pertengahan Oktober 2025, sebanyak tujuh kabupaten kini masuk dalam kategori zona merah setelah kasus kebakaran terus meningkat di berbagai wilayah. Kondisi ini membuat pemerintah daerah kembali meningkatkan kewaspadaan di tengah musim kemarau panjang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat, sedikitnya sudah terjadi 702 kejadian karhutla sepanjang tahun 2025. Tiga kabupaten mencatat jumlah kasus tertinggi, yakni Ogan Ilir dengan 134 kejadian, Musi Banyuasin 132, dan Ogan Komering Ilir sebanyak 124 kejadian.

Menurut Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, ketiga wilayah tersebut memiliki karakteristik lahan gambut dan mineral yang sangat rentan terbakar. “Saat kondisi cuaca kering ekstrem seperti sekarang, api dapat cepat menyebar dan sulit dipadamkan,” ujarnya, Senin (20/10/2025).

Selain tiga wilayah utama itu, empat kabupaten lain juga masuk daftar rawan tinggi karhutla, yakni Banyuasin (91 kasus), Muara Enim (69 kasus), Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) (59 kasus), dan Musi Rawas (41 kasus). “Tujuh kabupaten ini menjadi fokus utama pengawasan karena potensi penyebaran api di lahan gambut sangat cepat,” jelas Sudirman.

Ia menjelaskan, kemarau panjang yang dibarengi angin kencang memperburuk situasi di lapangan. “Sebagian besar titik api muncul di lahan perkebunan, semak belukar, dan lahan tidur yang belum dimanfaatkan,” katanya. Kondisi tersebut membuat personel gabungan harus bekerja ekstra untuk mencegah meluasnya kebakaran.

Sejak Agustus 2025, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel telah menetapkan status siaga darurat karhutla. Lebih dari 1.200 personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan Manggala Agni disiagakan di berbagai titik rawan. “Kami juga mengoperasikan empat helikopter untuk melakukan water bombing di daerah yang sulit dijangkau,” tambah Sudirman.

Pemerintah daerah juga memperkuat upaya pencegahan melalui program Desa Peduli Api dan sistem peringatan dini berbasis citra satelit. Teknologi ini memungkinkan deteksi dini terhadap munculnya titik panas sebelum api meluas. “Langkah ini terbukti membantu mempercepat respon di lapangan,” imbuhnya.

Tak hanya pencegahan, aspek penegakan hukum juga menjadi perhatian. Sudirman menegaskan bahwa pihaknya mendorong aparat penegak hukum untuk menindak tegas individu maupun perusahaan yang terbukti membakar lahan. “Kami tidak akan kompromi. Setiap pelaku akan diproses sesuai ketentuan hukum,” tegasnya.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan, total luas lahan terbakar di Sumatera Selatan sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai 4.859 hektare. Meski angka ini cukup besar, pemerintah daerah tetap optimistis bencana kabut asap skala besar bisa dihindari tahun ini.

Sudirman menegaskan bahwa kunci utama pengendalian karhutla ada pada pencegahan dini dan partisipasi masyarakat. “Sekali api menyala, pemadamannya sangat sulit dan biaya besar. Karena itu, kesadaran warga menjaga lingkungannya adalah langkah terbaik,” pungkasnya.

Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly

Tag : Pemprov Sumsel BPBD Sumsel

Komentar