26 Jan 2026 17:45

Di Tengah Gawai dan Media Sosial, Budaya Literasi Siswa Masih Diuji

Di Tengah Gawai dan Media Sosial, Budaya Literasi Siswa Masih Diuji

Kaganga.com PALEMBANG — Di sela kesibukan siswa yang akrab dengan layar gawai dan media sosial, kebiasaan membaca buku dan menulis secara mendalam perlahan kian jarang ditemui. Arus informasi yang datang begitu cepat sering kali tidak memberi ruang bagi siswa untuk berhenti sejenak, memahami, dan berpikir kritis.

Fenomena ini menjadi perhatian Dinas Pendidikan Sumatera Selatan. Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Dinas Pendidikan Sumsel, Misral, S.Sn., M.Sn., menilai bahwa tantangan literasi saat ini bukan hanya soal minat baca, tetapi juga perubahan cara belajar dan cara berpikir generasi muda.

“Anak-anak sekarang hidup di tengah banjir informasi. Tantangannya adalah bagaimana mereka tidak sekadar membaca, tetapi mampu memahami dan menyaring apa yang mereka terima,” ujar Misral.

Menurutnya, literasi memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca teks. Literasi menjadi fondasi penting dalam membentuk pola pikir, karakter, serta kemampuan siswa dalam mengambil keputusan sehari-hari.

Perubahan pola belajar siswa, kata Misral, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran gawai dan media sosial. Kebiasaan membaca panjang dan mendalam perlahan tergeser oleh konten singkat yang instan dan sering kali dikonsumsi tanpa verifikasi.

“Kondisi ini tidak sepenuhnya salah teknologi. Yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama adalah bagaimana mengarahkan teknologi agar mendukung proses belajar, bukan justru melemahkannya,” ujarnya.

Di lingkungan sekolah, budaya literasi juga dinilai belum sepenuhnya tumbuh secara alami. Program literasi kerap hadir dalam bentuk kegiatan rutin, namun belum selalu diiringi dengan ruang diskusi dan refleksi yang mendorong siswa berpikir kritis.

“Membaca seharusnya menjadi pintu untuk berdialog, bertanya, dan menulis. Di sanalah proses belajar sesungguhnya terjadi,” kata Misral.

Ia berharap sekolah dapat menjadi ruang yang ramah bagi pertukaran gagasan. Perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, tetapi menjadi ruang hidup tempat siswa berdiskusi, berekspresi, dan menemukan sudut pandang baru.

Dalam upaya menumbuhkan budaya literasi, peran guru dinilai sangat menentukan. Guru tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga teladan dalam membaca, menulis, dan berpikir kritis.

“Ketika guru menunjukkan kecintaan pada literasi, siswa akan mengikuti dengan sendirinya,” ujarnya.

Selain literasi baca-tulis, Misral juga menekankan pentingnya literasi digital. Di tengah maraknya hoaks dan informasi yang menyesatkan, siswa perlu dibekali kemampuan memahami konteks dan memverifikasi sumber informasi.

Ia mengingatkan, masa depan kualitas sumber daya manusia Sumatera Selatan sangat bergantung pada bagaimana budaya literasi dibangun hari ini. Pendidikan, menurutnya, bukan semata-mata soal nilai ujian, tetapi proses panjang membentuk cara berpikir dan bersikap.

“Kita sedang menyiapkan generasi yang akan hidup di dunia nyata dan digital sekaligus. Literasi adalah bekal agar mereka tidak kehilangan arah,” tutup Misral.

Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly

Tag : Pemprov Sumsel Budaya Literasi Sisw

Komentar