31 Okt 2025 17:15

Pelabuhan Tanjung Carat, Momentum Baru Efisiensi Logistik dan Ekonomi Sumsel

Pelabuhan Tanjung Carat, Momentum Baru Efisiensi Logistik dan Ekonomi Sumsel

Kaganga.com PALEMBANG — Pembangunan Pelabuhan Palembang Baru Tanjung Carat di Kabupaten Banyuasin menjadi langkah strategis bagi Sumatera Selatan (Sumsel) untuk memangkas biaya logistik dan mempercepat arus ekspor komoditas unggulan daerah. Proyek yang telah lama dinantikan itu kini resmi memasuki tahap pembangunan setelah penantian hampir empat dekade.

Penandatanganan kerja sama pembangunan dan pengoperasian pelabuhan samudra pertama di Sumsel itu dilakukan oleh Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi dan Gubernur Sumsel Herman Deru, di Griya Agung Palembang, Jumat (31/10/2025). Kesepakatan tersebut menandai babak baru bagi Sumsel dalam memperkuat posisi strategisnya sebagai gerbang perdagangan regional.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, pelabuhan yang dibangun di atas lahan seluas 59,5 hektare ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Proses pembangunan dirancang melalui skema pendanaan non-APBN, yang mengedepankan sinergi antara pemerintah, BUMN, BUMD, dan pihak swasta.

“Pembangunan pelabuhan ini bukan hanya proyek infrastruktur, tapi fondasi untuk membentuk ekosistem logistik yang lebih efisien di Sumsel dan sekitarnya. Kita ingin hasilnya langsung dirasakan dunia industri dan masyarakat,” ujar Dudy.

Untuk mendukung sistem transportasi terintegrasi, pemerintah juga akan mengembangkan pelabuhan pengumpan di Kertapati dan Sungai Lumpur. Kedua pelabuhan itu berfungsi sebagai simpul distribusi antarwilayah, yang akan memperkuat jaringan logistik menuju Pelabuhan Tanjung Carat sebagai pelabuhan utama.

Sementara itu, Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu menilai keberadaan pelabuhan ini akan menjadi titik balik dalam tata kelola industri Sumsel. Menurutnya, Tanjung Carat dirancang sebagai pelabuhan serbaguna yang melayani curah kering, curah cair, dan kargo multipurpose, sehingga mampu menampung berbagai jenis komoditas ekspor.

“Sumsel memiliki sumber daya alam yang lengkap, mulai dari energi, pertanian, hingga perkebunan. Dengan pelabuhan ini, rantai pasok akan jauh lebih efisien dan biaya logistik bisa ditekan. Ini menjadi daya tarik besar bagi investor,” kata Todotua.

Ia menambahkan, pelabuhan tersebut juga menjadi bagian dari konsep Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Hilirisasi yang diusulkan sebagai yang pertama di Indonesia. KEK ini akan menampung industri pengolahan berbasis komoditas lokal seperti batubara, sawit, dan karet. “Hilirisasi adalah cara kita memperkuat nilai tambah ekonomi daerah,” ujarnya.

Gubernur Sumsel Herman Deru menegaskan, pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat adalah simbol keberhasilan kolektif pemerintah daerah dan pusat dalam mewujudkan cita-cita lama masyarakat Sumsel. Ia menilai proyek ini akan mengubah peta ekonomi provinsi tersebut dalam lima tahun mendatang.

“Selama ini biaya logistik kita tinggi karena bergantung pada pelabuhan di provinsi lain. Kini Sumsel punya kesempatan berdikari secara ekonomi dan mempercepat arus ekspor langsung dari wilayahnya sendiri,” kata Herman Deru.

Ia menyebutkan, potensi komoditas unggulan seperti sawit, karet, kopi, dan batubara akan memiliki nilai jual lebih tinggi jika distribusi dan pengiriman dilakukan langsung dari pelabuhan samudra di wilayah sendiri. “Kehadiran Tanjung Carat adalah bentuk nyata pemerataan pembangunan dan keadilan ekonomi bagi daerah penghasil,” tegasnya.

Dengan dukungan lintas kementerian dan investasi dari berbagai pihak, pelabuhan yang ditargetkan selesai sebelum tahun 2029 itu diharapkan menjadi katalis baru bagi pertumbuhan ekonomi Sumatera bagian selatan. Lebih dari sekadar infrastruktur, Tanjung Carat diyakini akan menjadi simbol kemandirian ekonomi Sumsel di masa depan.

Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly

Tag : Pembangunan Tanjung Pemprov Sumsel

Komentar