4 Ags 2025 18:25

Persiapan Ketat Pengrajin Bidar Palembang Jelang Lomba di Sungai Musi

Persiapan Ketat Pengrajin Bidar Palembang Jelang Lomba di Sungai Musi

Kaganga.com PALEMBANG — Lomba perahu bidar yang digelar setiap perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu masyarakat Palembang. Tahun ini, menyambut HUT RI ke-80, pengrajin dan pemilik bidar di Kota Palembang mulai mempersiapkan perahunya agar siap tampil maksimal di ajang tahunan tersebut.

Salah satu pengrajin sekaligus pemilik perahu bidar, Encik Muhammad Alauddin Saka Gerhan, atau yang akrab disapa Jaka, menyampaikan bahwa proses pengerjaan perahunya telah mencapai 65 persen. Ia menargetkan seluruh proses rampung sebelum lomba yang dijadwalkan pada 15–17 Agustus 2025.

"Masih ada tahapan pendempulan dan pengecatan. Biasanya setiap tahun ada kerusakan, terutama di bagian kayu dan dempul, jadi harus kami servis rutin," kata Jaka saat ditemui di workshop miliknya, Senin (4/8/2025).

Menurutnya, perawatan dan perbaikan bidar merupakan proses yang penting agar perahu bisa bersaing secara optimal. Terlebih, bahan dasar kayu yang digunakan cenderung mudah rusak akibat cuaca dan usia pemakaian.

"Desainnya tidak banyak berubah, paling hanya warna cat yang kami sesuaikan. Tapi struktur kayu selalu dicek. Kalau ada yang lapuk, kami ganti. Semua itu kami lakukan agar perahu tetap laik digunakan," ungkapnya.

Tantangan utama dalam pembuatan bidar, kata Jaka, terletak pada kesulitan memperoleh kayu berkualitas tinggi dan berukuran panjang. "Kayu untuk bidar itu panjangnya bisa sampai 12 meter, sementara di Palembang biasanya hanya tersedia kayu 4 meter. Jadi kami harus mencari sampai ke kabupaten lain," ujarnya.

Beberapa jenis kayu yang digunakan antara lain kayu merawan, meranti, rengas, dan bungur, yang terkenal ringan dan kuat. Kayu-kayu tersebut biasanya didapat dari kawasan hutan di Kabupaten Muara Enim atau Lahat.

"Setelah survei dan negosiasi harga, kami menebang sendiri kayunya di hutan, lalu diangkut ke Palembang. Itu proses yang cukup memakan waktu dan biaya," jelas Jaka.

Satu perahu bidar memiliki panjang sekitar 31 meter dan mampu menampung hingga 57 orang, yang terdiri dari 55 pendayung, satu juragan (pengemudi), dan satu tukang timbah air. Proses pembuatannya sendiri bisa memakan waktu hingga dua bulan dan dikerjakan oleh tim kecil yang berjumlah empat orang.

"Lomba bidar itu bukan hanya soal adu cepat, tapi juga soal kekompakan dan semangat tim. Begitu dilepas, semua perahu akan melaju bersamaan, saling mendahului. Itulah keseruannya," tambahnya.

Jaka berharap, pihak penyelenggara bisa memastikan keamanan lintasan serta ketertiban peserta selama perlombaan. Ia juga mengimbau masyarakat yang ingin menonton untuk tidak ikut turun ke sungai agar tidak mengganggu jalannya lomba.

"Kami minta kepada warga Palembang, silakan menonton dari atas jembatan atau pinggir Sungai Musi. Jangan ikut mendayung di samping kami, karena gelombang dari perahu lain bisa menggangu bidar. Beri kami ruang untuk tampil maksimal," tegasnya.

Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly

Tag : Pemprov Sumsel Pengrajin Bidar Pale

Komentar