Kaganga.com Palembang – Pembangunan jalan khusus angkutan batubara yang belum rampung kini berdampak serius terhadap aktivitas tambang di Sumatera Selatan (Sumsel). Sejumlah perusahaan tambang terpaksa menghentikan sementara operasionalnya karena jalur distribusi belum terhubung sepenuhnya, menyebabkan produksi batubara anjlok lebih dari separuh.
Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Sumsel (APBS), Andi Asmara, mengungkapkan bahwa penurunan produksi ini terjadi hampir di seluruh wilayah tambang utama, terutama di Muara Enim dan Lahat. “Makanya sekarang ini batubara Sumsel drop-nya besar sekali, lebih dari 50 persen,” ujarnya, Sabtu (18/10/2025).
Andi menjelaskan, proyek jalan khusus yang seharusnya menjadi solusi untuk mengurangi beban lalu lintas jalan umum masih belum tuntas. Dari total target 150 kilometer, hingga kini baru sekitar 120 kilometer yang selesai dikerjakan. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan kesulitan mendistribusikan hasil tambang mereka ke pelabuhan dan pembeli.
“Targetnya, seluruh tambang bisa saling terhubung mulai dari Tanjung Enim ke tambang BAS milik Grup Titan, PT Bara Murti, eks tambang ABS, GGB, lalu ke Banjar Sri Bumi atau C-Way RDP, hingga akhirnya tersambung ke jalan SLR,” terang Andi.
Menurutnya, keterlambatan penyelesaian jalan khusus tersebut menjadi hambatan utama dalam menjaga stabilitas produksi dan pasokan batubara dari Sumsel. Banyak perusahaan memilih menunda operasi karena biaya logistik meningkat tajam jika tetap menggunakan jalan umum. “Kalau jalur ini selesai, distribusi akan lancar. Sekarang banyak perusahaan memilih berhenti karena biaya logistik terlalu tinggi,” jelasnya.
Dampak penurunan produksi tak hanya dirasakan oleh perusahaan tambang, tetapi juga menjalar ke sektor lain, seperti transportasi, logistik, hingga tenaga kerja lokal. Sejumlah sopir angkutan dan pekerja tambang dilaporkan harus dirumahkan sementara akibat minimnya kegiatan produksi.
“Dampaknya bukan hanya pada perusahaan, tapi juga ke tenaga kerja dan sektor pendukung seperti transportasi dan jasa logistik,” tambah Andi.
Pihak APBS, lanjutnya, terus menjalin koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pihak swasta untuk mempercepat penyelesaian proyek jalan khusus tersebut. Ia berharap ada langkah konkret dalam waktu dekat agar aktivitas tambang dapat kembali normal. “Kami bersama pemerintah terus mencari jalan terbaik. Mudah-mudahan sampai Januari nanti sudah terlihat hasilnya,” tutup Andi.
Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly