9 Jul 2025 10:15

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga di Tengah Gejolak Global

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga di Tengah Gejolak Global

Kaganga.com,JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga, meskipun tekanan ekonomi global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat. Hal ini disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 25 Juni 2025 lalu.

Ketegangan global yang dimaksud antara lain mencakup konflik antara Israel dan Iran serta serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran. Meski sempat memicu gejolak di pasar keuangan dan lonjakan harga minyak, situasi mulai mereda seiring diberlakukannya gencatan senjata antara kedua negara.

Di tengah kondisi tersebut, lembaga internasional seperti Bank Dunia (World Bank) dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2025 dan 2026 ke arah yang lebih rendah. Ketidakpastian geopolitik disebut masih menjadi hambatan utama dalam proses pemulihan ekonomi dunia.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok juga turut memengaruhi kondisi global. Meskipun telah dicapai kesepakatan kerangka dagang antara kedua negara, pasar global masih menunggu kejelasan implementasinya.

"Indikator ekonomi global secara umum menunjukkan tren moderasi dan sebagian besar berada di bawah ekspektasi. Ini mendorong banyak negara mengambil kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif," jelas Plt. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi dalam keterangan resminya.

Di Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) masih mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25–4,50 persen. Bank sentral AS memilih menahan langkah penurunan suku bunga sambil menunggu perkembangan inflasi dan dampak dari kebijakan tarif terbaru.

Sementara itu, di dalam negeri, perekonomian nasional menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Inflasi inti tercatat termoderasi ke level 2,37 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), menandakan tekanan harga mulai menurun.

Neraca perdagangan Indonesia juga kembali mencatatkan surplus pada Mei 2025, setelah sempat tertekan di bulan sebelumnya. Perbaikan ini terutama ditopang oleh kinerja ekspor sektor pertanian dan manufaktur yang tumbuh positif selama tiga bulan terakhir, meskipun terjadi penurunan pada ekspor produk pertambangan dan komoditas lainnya.

Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Inesalk

Tag : OJK Sumsel

Komentar