Kaganga.com PALEMBANG – Musim kemarau yang kini memasuki fase puncak mulai memunculkan kekhawatiran baru di Sumatera Selatan. Selain meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat menurunnya kualitas udara.
Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Trisnawarman, mengatakan meski angka kasus ISPA sepanjang enam bulan pertama 2026 menunjukkan tren menurun dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi tersebut belum bisa dijadikan patokan bahwa ancaman telah berlalu. Asap karhutla yang berpotensi muncul pada Agustus hingga September diperkirakan dapat kembali meningkatkan jumlah penderita.
"Biasanya setiap musim kemarau memang ada peningkatan kasus ISPA, apalagi jika disertai kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan asap," ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumsel, kasus ISPA pada Januari 2026 tercatat sebanyak 50.651 kasus dan terus menurun hingga menjadi 33.582 kasus pada Juni. Angka tersebut lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun 2025, di mana Januari mencatat 45.131 kasus dan Juni mencapai 40.067 kasus.
Namun demikian, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan mengingat musim kemarau identik dengan meningkatnya polusi udara akibat kebakaran lahan. Kondisi ini berisiko memicu gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
Palembang menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Sumsel, yakni mencapai 85.032 kasus. Selanjutnya Muara Enim sebanyak 30.668 kasus, Musi Banyuasin 17.946 kasus, OKU Timur 15.109 kasus, Banyuasin 14.140 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, serta Lahat 13.523 kasus. Sejumlah daerah lain seperti OKI, Ogan Ilir, Lubuklinggau, Prabumulih, dan Pagar Alam juga masih mencatat ribuan kasus.
Trisnawarman menjelaskan, ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan mulai dari hidung hingga paru-paru. Penyakit ini dapat dipicu oleh infeksi virus, bakteri, jamur, maupun paparan polusi udara seperti asap kendaraan dan asap kebakaran hutan.
Gejala yang sering muncul antara lain batuk, pilek, hidung tersumbat, demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas. Pada kondisi yang lebih berat, penderita bisa mengalami sesak napas, nyeri dada, demam tinggi berkepanjangan, bahkan bibir membiru sehingga memerlukan penanganan medis segera.
Kelompok yang paling berisiko mengalami ISPA adalah balita, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis. Mereka memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah sehingga lebih rentan mengalami komplikasi saat kualitas udara memburuk.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Sumsel mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan polusi dengan menjaga sirkulasi udara di rumah, tidak membakar sampah, menghindari asap rokok, serta memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara menurun.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan secara rutin, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga, dan beristirahat cukup. Jika mengalami batuk berkepanjangan, demam tinggi, atau sesak napas, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
"Jangan menunggu sampai kondisi berat. Jika keluhan tidak membaik atau muncul sesak napas, segera datang ke puskesmas atau rumah sakit agar bisa ditangani lebih cepat," tegas Trisnawarman.
Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly
Tag : Pemprov Sumsel ISPA