Kaganga.com PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru menegaskan bahwa kompetensi tenaga kesehatan (nakes) tidak hanya diukur dari kemampuan medis, tetapi juga dari sikap dan keramahtamahan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Menurutnya, pelayanan yang hangat dan humanis menjadi faktor penting dalam mendukung proses kesembuhan pasien.
Pernyataan tersebut disampaikan Herman Deru saat membuka Grand Opening sekaligus Seminar Nasional Sriwijaya Health Institute (SHI) di Ballroom Hotel Harper Palembang, Rabu (24/6/2026).
Dalam sambutannya, Herman Deru menaruh harapan besar agar Sriwijaya Health Institute mampu melipatgandakan kapasitas nakes di Sumsel, baik untuk memenuhi kebutuhan daerah maupun membuka peluang kerja di tingkat internasional.
Ia juga mengapresiasi kontribusi besar para tenaga kesehatan dalam mendukung berbagai program kesehatan Pemerintah Provinsi Sumsel, termasuk keberhasilan pengelolaan posyandu.
“Sumsel bangga memiliki lebih dari 6.000 posyandu yang aktif terjaga. Peran aktif para nakes di lini ini menjadi pilar utama yang membawa Sumatera Selatan menjadi salah satu provinsi terbaik dalam penanganan stunting di Indonesia,” ujar HD.
Lebih lanjut, Deru mengingatkan bahwa keahlian medis yang tinggi harus diimbangi dengan attitude pelayanan yang prima. Ia menekankan pentingnya standarisasi aspek keramahtamahan (hospitality) bagi seluruh tenaga kesehatan.
“Aspek keramahtamahan merupakan salah satu faktor krusial yang secara psikologis terbukti dapat mempercepat proses pemulihan pasien. Karena itu, petugas di garda terdepan fasilitas kesehatan harus mampu memberikan pelayanan yang hangat dan ramah karena sangat menentukan persepsi serta kenyamanan pasien sejak pertama kali datang,” tegasnya.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat memperkuat sinergi layanan kesehatan yang berkesinambungan dari hulu hingga hilir, dengan menyeimbangkan aspek promotif, preventif, dan kuratif.
Herman Deru juga menyinggung ketahanan kesehatan Sumsel yang semakin inklusif melalui program berobat gratis hanya menggunakan KTP. Berbekal pengalaman menghadapi pandemi COVID-19, ia mengajak masyarakat terus menjaga kesehatan diri dan lingkungan guna menghadapi potensi wabah di masa mendatang.
“Kehadiran lembaga diklat ini diharapkan menjadi dongkrak utama dalam mencetak tenaga kesehatan lokal yang berdaya saing global,” harapnya.
Ia juga berharap tenaga kesehatan dari 17 kabupaten/kota di Sumsel dapat secara bergantian mengikuti pendidikan dan pelatihan di institut tersebut.
Sementara itu, Direktur Sriwijaya Health Institute, Prof. Dr. dr. Yuwono, M.Biomed., menjelaskan bahwa lembaga yang mulai beroperasi tahun ini merupakan lembaga pendidikan dan pelatihan resmi yang telah mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan RI.
“Fokus utama kami adalah capacity building, meningkatkan kapasitas keahlian yang telah dimiliki tenaga kesehatan saat ini. Di seluruh Sumatra, lembaga diklat sejenis baru ada di Medan, Sumatera Barat, dan kini hadir di Sumatera Selatan,” ungkap Prof. Yuwono.
Grand Opening SHI dihadiri ratusan peserta dari berbagai sektor kesehatan, mulai dari direktur rumah sakit, akademisi, Fakultas Kedokteran, praktisi laboratorium, hingga tokoh masyarakat dan pemerhati kesehatan.
Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly
Tag : Pemprov Sumsel SHI