19 Jul 2026 19:45

UNESCO Akui Kebaya, Ribuan Perempuan Padati CFD Palembang dalam Parade Songket

UNESCO Akui Kebaya, Ribuan Perempuan Padati CFD Palembang dalam Parade Songket

Kaganga.com PALEMBANG – Ribuan perempuan berkebaya memadati kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Minggu (19/7/2026), dalam gelaran Parade Kebaya Songket: Pesona Perempuan Indonesia. Kegiatan yang diinisiasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan ini menjadi bagian dari gerakan nasional pelestarian kebaya setelah busana tradisional tersebut diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2024.

Ketua Umum DPP PIM, Lana T. Koentjoro, mengatakan pengakuan UNESCO harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga sekaligus mempopulerkan kebaya sebagai identitas budaya bangsa.

"Pengakuan UNESCO bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar," ujar Lana.

Menurutnya, DPP PIM tengah mengonsolidasikan gerakan pelestarian budaya secara serentak di berbagai daerah yang akan bermuara pada puncak peringatan Hari Kebaya Nasional di Jakarta pada 24 Juli mendatang.

Ia menilai gerakan mengenakan kebaya tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga mampu menggerakkan sektor ekonomi kreatif melalui kolaborasi berbagai pihak.

"Ketika masyarakat mengenakan kebaya, terdapat multiplier effect ekonomi yang sangat luas," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, PIM juga menargetkan pencatatan Rekor MURI untuk kategori perempuan berkebaya dengan kain songket terbanyak sebagai upaya memperkenalkan ikon Jembatan Ampera ke tingkat internasional.

Ketua PIM Sumatera Selatan, Helen Ganefo, mengungkapkan antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan ini sangat tinggi. Pendaftaran secara daring mencapai lebih dari 2.000 peserta, sementara masyarakat yang berada di kawasan CFD juga diberi kesempatan bergabung sehingga total peserta diperkirakan mencapai sekitar 5.000 orang.

"Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Bukan semata-mata melihat jumlah pesertanya, tetapi tingginya antusiasme masyarakat Palembang," katanya.

Helen menambahkan, parade ini merupakan penyelenggaraan ketiga setelah sebelumnya sukses digelar di Benteng Kuto Besak (BKB) dan Kantor Gubernur Sumatera Selatan.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, serta melibatkan 52 organisasi perempuan. Selain diikuti peserta dari 17 kabupaten/kota di Sumsel, parade juga dihadiri peserta dari Padang dan Jambi, baik secara langsung maupun melalui Zoom.

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto, yang turut hadir menyaksikan pencatatan Rekor MURI, menegaskan bahwa pengakuan UNESCO harus menjadi penyemangat generasi muda untuk terus melestarikan kebaya.

"Kebaya sudah dikenalkan di UNESCO, tentu kita sebagai generasi penerus harus melestarikan," ujarnya.

Menurut Nannie, gerakan berkebaya juga memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan UMKM karena melibatkan banyak sektor, mulai dari perajin kain, pembuat alas kaki, hingga jasa rias pengantin.

"Dari kebaya ini kita telah mengangkat seluruh UMKM Indonesia. Mulai dari selop, kain ganding, hingga jasa MUA," katanya.

Menjelang usia satu abad Kowani, momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali semangat Kongres Perempuan 1928 dalam memperjuangkan hak-hak perempuan serta memperkuat ketahanan keluarga.

Untuk menjaga keberlanjutan tradisi, DPP PIM berkomitmen mendekatkan kebaya kepada generasi muda melalui inovasi desain dan program Kebaya Go to School serta Kebaya Go to Campus, tanpa meninggalkan pakem dasar busana kebaya, seperti model Kutu Baru.

Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly

Tag : Pemprov Sumsel Headline Songket UNESCO

Komentar